Terbaru

Tampilkan postingan dengan label motivasi dan inspirasi. Tampilkan semua postingan

PARA KSATRIA





Oleh : @dhezun | Markaz Inspirasi

Dalam suatu kesempatan, berkumpul lima ksatria yang berasal dari negeri berbeda. Para ksatria itu ada yang berasal dari Negeri Gunung, Negeri Besi, Negeri Api, Negeri Air, dan Negeri Angin. Lima negeri yang mahsyur dikenal sebagai Negeri-Negeri yang gemar berperang. Terkadang mereka menjadi kawan, terkadang menjadi lawan.

Lelah dengan peperangan tanpa henti dan memakan banyak korban, akhirnya Ksatria dari negeri angin mencoba mempertemukan mereka dalam satu forum perdamaian. Dengan harapan terdapat titik temu dan kesepakatan antar negeri untuk menghentikan peperangan dan tercipta kedamaian antar Negeri-negeri mereka.

Tak terlalu sulit bagi ksatria angin untuk mengumpulkan keempat ksatria yang lainnya, karena keadaan sedang dalam keadaan tenang tanpa peperangan.

Karena setiap mereka memiliki kepentingan, latar belakang, dan karakter yang berbeda, tantangan berikutnya adalah bagaimana menyatukan pandangan seluruh ksatria agar sama dengan pandangan ksatria angin, yaitu untuk mengakhiri peperangan selama-lamanya dan menciptakan perdamaian antar negeri. Seperti menyatukan air dan minyak yang tidak akan pernah bersatu tanpa ada campur tangan zat lain untuk menyatukannya.

Pertemuan dipimpin langsung oleh Ksatria angin, ksatria yang paling tua, paling berilmu dan bijaksana tutur katanya diantara yang lainnya. Ksatria angin kemudian menyampaikan maksud dan tujuannya mengapa mengundang ksatria yang lainnya. Ksatria Angin berharap para ksatria dapat membantunya untuk mewujudkan perdamaian dan menghentikan peperangan yang terjadi antar Negeri-Negeri mereka untuk selamanya.

Sekilas, mereka tampak sejalan dengan ide yang diutarakan oleh Ksatria angin, Tanpa di duga tiba-tiba…

“TIDAK…!!! Saya tidak setuju…!!! Kecuali Syarat dariku dipenuhi oleh kalian semua” Gertak Ksatria Gunung yang memiliki badan paling besar dan paling gagah diantara yang lainnya.
“Wahai ksatria gunung, apa syarat yang kau inginkan?” Tanya Ksatria angin dengan tenang.

“Kalian tahu kan, Kami yang berasal dari negeri gunung memiliki keahlian mengendalikan gunung-gunung yang ada di seluruh dunia?” Tanya retoris ksatria gunung.

“Tanpa adanya kami niscaya gunung-gunung itu akan meluluh lantakkan seluruh daratan yang ada dunia ini, akan memuntahkan seluruh larva yang ada di dalam perutnya, akan hilang keseimbangan antara langit dan bumi karena hilangnya penyokong bumi dan langit. Oleh sebab itu, karena keutamaan itu, aku mewakili seluruh penduduk negeri gunung, agar diberikan hak memimpin kalian untuk mewujudkan ide perdamaian itu” Tuntut Ksatria Gunung.

“Tunggu…!!! Aku Tidak Setuju…!!!” Sahut Ksatria besi yang memiliki fisik sekeras baja menyela Ksatria Gunung.

“Hai kau Ksatria Gunung…!!! Sadarkah dirimu bahwa Gunung-gunung yang kau banggakan itu dapat dengan mudahnya kami hancurkan?” Pertanyaan retoris dari Ksatria Besi.

“Dengan kemampuan kami yang mampu mengendalikan besi sesuka hati kami, kami dapat mengeruk tanah dan bebatuan yang membentuk gunung-gunungmu itu. Akan kami keruk seluruh tanahnya, akan kami hancurkan seluruh bebatuannya hingga tak ada yang tersisa dari Gunung-gunung yang Kau banggakan itu. Sebab itu, akulah yang lebih berhak memimpin kalian semua” Terang Ksatria Besi menunjukkan kekuatannya.

“Hahahaha… Lucu sekali kalian berdua…” Tawa ledek Ksatria api yang terkenal kejam.
“ Hei Kau Ksatria besi…!!! Akan kulelehkan mulut dan jasadmu bersama dengan besi-besi karatan yang kau bangga-banggakan itu…!!! Akulah yang paling kuat diantara kalian, dengan kemampuan api yang kumiliki ini, aku dapat membakar kalian semua tanpa sisa. Hanya aku yang paling berhak untuk memimpin kalian yang lemah tak berdaya” Tak mau kalah Ksatria Api memamerkan kekuatannya.

Tak mau kalah dengan yang lainnya, Ksatria Air yang terkenal pendiam pun angkat bicara.
“Heei… Heeiii… Sampai kapan kalian bertiga akan terus bertengkar ?” Tanya Ksatria Air.
“Hei Ksatria Api, tidak hilang ya kesombonganmu dari dahulu, tidak heran jika kau menguasai api, karena kesombonganmu layak sekali disandingkan dengan kesombongan Iblis dan syaitan yang juga diciptakan dari api. Mudah sekali bagiku untuk memusnahkan dirimu dan api yang menjadi kekuatanmu itu, sekali sembur dapat kuhanyutkan dirimu dan kupadamkan apimu. Tak hanya Api, akupun dapat memotong besi dan bebatuan dengan air yang kusemprotkan dengan kecepatan dan tekanan yang tinggi. Jadi, tak ada lagi yang lebih berhak memimpin kalian semua kecuali aku” Jelas Ksatria Air meyakinkan yang lain.

Mendengar perdebatan yang pelik diantara keempat ksatria itu, Ksatria Angin hanya diam mendengarkan sampai perdebatan itu berakhir dan buntu tanpa ada kesepahaman.
Melihat sikap Ksatria Angin, Ksatria Air bertanya kepada kepada Ksatria Angin

“Hai Ksatria Angin, Bagaimana pendapatmu? Bukankah Aku yang paling layak memimpin kalian semua?”

Mendengar dimintai pendapatnya, akhirnya Ksatria Angin angkat bicara,

“ Wahai para Ksatria, jika aku mengikuti kalian yang saling menunjukkan kekuatan, aku juga dapat berkata kapada kalian semua, bahwa kekuatan yang aku miliki dapat mengalahkan kekuatan kalian semua. Lihatlah bagaimana angin menggerakkan air di lautan yang tenang hingga menjadi badai yang mematikan, lihatlah bagaimana angin dengan kecepatan super cepat hingga menjelma menjadi badai yang dapat meluluh lantakkan seluruh yang ada di daratan, lihatlah bagaimana angin yang juga dapat memotong besi dan bebatuan dengan angin yang dihembuskan dengan tekanan dan kecepatan yang super tinggi” Jelas Ksatria Angin menunjukkan kekuatannya.

“Bisa saja aku juga menuntut kepemimpinan dengan kekuatan yang aku miliki ini. Tapi… Bukan itu yang aku harapkan. Siapapun pemimpinnya, selama ia dapat mewujudkan mimpi kita bersama untuk menciptakan perdamaian dan menghentikan perang untuk selamanya, aku akan menghormatinya, akan mendukungnya dan akan mendengar serta ta’at secara totalitas kepadanya” Lanjut Ksatria Angin mengajak berfikir ksatria yang lainnya.

Tak ada yang berani angkat bicara membantah Ksatria Angin, karena apa yang disampaikannya benar apa adanya.

Akhirnya disepakati secara musyawarah, seluruh Ksatria yang lain menginginkan Ksatria Angin yang memimpin mereka. Karena kebijaksanaan, ilmu, Usia dan Kekuatannya dapat menjadi penengah yang adil dan pemimpin yang tepat untuk memimpin mereka.

Sebulan setelah pertemuan itu, akhirnya deklarasi damai dan komitmen untuk tidak akan ada peperangan selamanya dikumandangkan. Negeri-Negeri yang selama ini berperang, akhirnya bersatu saling bantu dan menguatkan. Hingga terciptalah keamanan, kedamaian, keharmonisan, ketentraman dan kesejahteraan di seluruh Penjuru Negeri.

“Jika kau tak tahan dengan adanya perbedaan dan perselisihan dalam persaudaraan. Maka kau harus tahan dengan kelamnya kesendirian dan hampanya kehidupan.” @dhezun
06.40 Diposting oleh @dhezun 0

Sukses Berkomunikasi



Menurut salah satu penelitian di Amerika,Sekitar 85% kesuksesan hidup Seseorang Dipengaruhi langsung oleh kemampuan komunikasi yang efektif. Ketika kita mampu berkomunikasi dengan baik, maka kita akan mendapatkan perhatian orang yang mendengarkan kita, mereka akan mendengarkan kita dengan antusias dan seksama. Kemudian, pendengar akan tumbuh rasa percaya terhadap kita karena merasa yakin bahwa kita adalah yang tepat dan menguasai apa yang kita bicarakan, selanjutnya akan terjalin hubungan yang baik dengan kita. kepercayaan dan hubungan yang baik itulah yang akan mengantarkan kita kepada kesuksesan-kesuksesan kita.

Untuk dapat berkomunikasi dengan baik, ada enam hal yang harus kita miliki dan kita kuasai ketika berbicara dengan orang lain, yaitu :

Pertama, Respect.
Ketika berbicara kita harus menghormati secara layak orang yang kita ajak bicara, tidak merendahkan dan menggunakan bahasa yang sesuai dengan orang yang kita ajak bicara. Tunjukan antusias dan kebahagian bisa bertemu dan berkomunikasi dengan mereka. Sanjung dan buat mereka merasa dihargai keberadaannya. Sebagai contoh, "Assalamu'alaikum, gimana nih kabar bro? wah kangen nih ane ama ente. Makin ganteng aja nih dari hari ke hari", contoh lain ketika berbicara di depan umum "Alhamdulillah, Kebahagiaan itu banyak sebabnya, dan kebahagiaan luar biasa yang sedang saya rasakan saat ini adalah ketika saat ini saya dapat berjumpa dengan orang-orang sukses dan luar biasa, yaitu Anda semua".



Kedua, Empathy.
Kita menempatkan diri, perasaan dan fikiran sebagaimana yang dirasakan orang yang kita ajak bicara. Ketika sedang berduka, tempatkan diri kita bila berada di posisi mereka. Jika bahagia, kita pun sebisa mungkin ikut berbahagia meski hati sedang berduka.

Ketiga, Audible.
Allah menciptakan dua telinga dan satu mulut bkn tanpa hikmah, diantara hikmahnya adalah agar kita banyak mendengarkan daripada banyak bicara. Karena fitrahnya manusia itu senang berkeluh kesah, dan ingin orang lain mendengarkan keluh kesahnya itu. Bukan pura pura mendengar, masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Tapi mendengar dengan seksama, dengan menghadirkan fikiran, emosi, respct dan empathy.

Keempat, Clearly.
Ketika kita bicara harus jelas intonasi, artikulasi, dan ekspresinya. Diatur pace dan speednya agar enak didengarnya. Kuatkan pesan dengan komunikasi non verbal karena efektifitasnya jauh lebih kuat daripada hanya komunikasi hanya mengandalkan verbal. Buat sejelas dan sejernih mungkin pesan yang kita sampaikan.

Kelima, Humble.
Jika poin pertama sampai ketiga kita telah mendapatkan hatinya, poin keempat kita mendapatkan perhatiannya, poin kelima adalah upaya kita mendapatkan kenyamanannya. Sikap rendah hati adalah sikap yang disenangi siapapun yang kita ajak bicara. Orang akan menghormati kita tanpa kita tunjukan siapa kita. Orang akan respect kepada kita tanpa kita tunjukan gelar dan status sosial kita. Orang juga akan nyaman bercerita tentang dirinya karena sikap rendah hati kita kepadanya. Semakin kita umbar siapa kita dan membanggakan prestasi prestasi kita di hadapan orang yang kita ajak bicara, semakin segan orang untuk mendengarkannya. Kecuali memang diminta untuk menyampaikan kesuksesannya untuk diambil pelajaran untuk mereka.

Keenam, honesty.
Mungkin kita bisa mendapatkan poin satu sampai lima, tapi jika poin terakhir ini tidak kita penuhi, maka akan sia sia lah semuanya. Inti kesuksesan dari komunikasi adalah mendapatkan kepercayaan dari orang yang kita ajak bicara. Tanpa adanya kejujuran takkan pernah terbangun kepercayaan, meski sebaik apapun kita berkomunikasi. Bahkan komunikasi yang sudah lama kita bangun sekalipun, akan mudah rontok bila tanpa diselimuti dengan kejujuran. Kejujuran adalah harga mati untuk mereka yang ingin mendapatkan kesuksesan di dunia dan akhirat.

Semoga bermanfaat.

@dhezun | markaz inspirasi
20.52 Diposting oleh Unknown 0

Panggilan Cinta


Senang sekali mendengar salah satu kawan saya akan menikah. Iri campur syukur mendapat kabar membahagiakan itu.
Tentu yang dirasakan kawan saya itu jauh lebih dahsyat kebahagiaannya dengan kebahagiaan yang saya rasakan. Setelah sekian tahun menanti akhirnya Allah pertemukan ia dengan jodohnya.

Tentu tak mudah baginya, perlu perjuangan untuk mewujudkannya. Banyak syarat yang harus dituntaskannya terlebih dahulu untuk mendapatkannya. Tapi beratnya perjuangan dan ketatnya syarat tak lantas membuatnya mundur dan berputus asa.

Cinta tak cukup dirasa dan dikata, harus ada sikap nyata untuk menyatakannya.

Wanita memberikan syarat bukan karena benci dan enggan bersamanya. Tapi sebagai bukti rasa cinta kepada calon pendampingnya. Ingin pendampingnya dalam keadaan terbaik ketika berdampingan dengannya.

Iman pun seperti itu, tak cukup dirasa dan dikata, harus dinyatakan dalam perbuatan fisik yang nyata. Allah memberikan perintah dan larangan kepada manusia bukan karena benci dan murka kepada hambanya, tapi karena Allah cinta kepada hambanya dan ingin hambanya bertemu denganNya dalam keadaan kembali kepada fitrahnya.

Keinginan Allah bertemu hambanya jauh lebih besar dibandingkan keinginan hamba bertemu denganNya. Keinginan Allah memasukan hambanya ke surga jauh lebih besar daripada keinginan hambanya untuk masuk ke surga.

Seperti syarat dan ketentuan seorang laki laki yang ingin menikahi wanita yang dialami kawan saya. Untuk menjemput cinta Allah yang menanti hambaNya,juga diperlukan perjuangan untuk menjemputnya, ada syarat yang harus kita penuhi sebelumnya. Yaitu dengan keimanan dan ketaatan yang sebenar benarnya kepada Allah ta'ala.
Wallahu a'lam
20.34 Diposting oleh Unknown 0

Mengobati Filler Words


 Pernah dengar filler words dr seseorang yg bicara di muka umum? seperti kata "mmm","eee","eeeeng" dan sejenisnya? hr ini sy denger filler words "iya kan" sebanyak 160 kali dr seorang trainer. ‪#‎weww‬

Biasanya filler words ini terjadi karena tiga hal, pertama sudah menjadi kebiasaan, tidak menguasai materi, dan grogi.

Setidaknya saya punya 3 tips untuk mengatasi ini, kalau dipraktikan dengan baik, insya Allah akan mengobatinya.

Pertama, dengan menggunakan jeda.
Diantara teknik bicara di muka umum adalah penggunaan jeda ya g tepat, sehingga makna antar kata dan kalimat lebih mudah dipahami dan lebih berwarna didengarnya. Jadikan jeda ini untuk meminimalisir filler words, ketika akan mengalami filler words, buatlah jeda di dalamnya, maksimal 3 detik sambil memikirkan kata apa yang akan diucapkan berikutnya. Contoh : Saya (eee), ade zuniarsa putra (eee), dari Condet. Jadi --> Saya (jeda), Ade zuniarsa putra (jeda), dari condet

Kedua, dengan memperpanjang kata sambung.
Sepertinya malah menambah sulit, tapi sebenarnya jika dipraktikan akan sangat menyenangkan dan benar-benar akan membantu mengatasi filler words. Dengan memperpanjang kata sambung seperti "dan", "tetapi", "atau", "padahal", dan lainnya akan sangat membantu kita mengingat kata dan memikirkan kata selanjutnya yang akan dibicarakan. Contoh : katanya Indonesia adalah negara yang kaya raya (eee), tapi penduduknya banyak yang berada di bawah garis kemiskinan (eeee), padahal sumber daya alamnya melimpah (eee), dan sumber daya manusianya cerdas cerdas. Jadi --> katanya Indonesia adalah negara yang kaya raya, (taaaaapiiiiii) penduduknya banyak yang berada di bawah garis kemiskinan,(paadahaaaaal) sumber daya alamnya melimpah (daaaaan) sumber daya manusianya cerdas cerdas.

Ketiga, dengan mengulang kata
Selain digunakan untuk penegasan dan agar mudah diingat suatu kata atau kalimat, pengulangan kata dan kalimat juga dapat mengatasi penyakit filler words jika tepat digunakannya. Dengan mengulang-ulang kata kita akan memiliki waktu untuk mrngingat dan mempersiapkan kata yang akan kita ucapkan selanjutnya. Contoh : rukun iman itu ada enam, rukun pertama adalah iman kepada Allah, kedua adalah beriman kepada malaikat, (eee) ketiga kepada kitab, keempat kepada rasul, kelima kepada hari kiamat, (eeee) keenam kepada takdir baik dan buruk. Jadi --> rukun iman itu ada enam, rukun pertama adalah iman kepada Allah, kedua adalah beriman kepada malaikat, (setelah pertama beriman kepada Allah dan kedua kepada malaikatnya) ketiga adalah kepada kitab, keempat kepada rasul, kelima kepada hari kiamat, (kepada Allah, malaikat, kitab, nabi dan rasul) terakhir yang keenam adalah beriman kepada takdir baik dan buruk.

Selain ketiga obat ampuh di atas, upaya lain untuk mengatasi filler words adalah dengan meningkatkan rasa percaya diri dan mempersiapkan penampilan dengan sangat baik. Ssmoga membantu dan dapat bermanfaat.
@dhezun | Markaz Inspirasi
20.28 Diposting oleh Unknown 0

UJIAN DAN KEMULIAAN (Based on True Story)


Jumat malam, Ba'da isya, saya kedatangan sahabat saya sewaktu kuliah, awalnya hanya untuk sebuah keperluan sesaat, tapi ternyata kita hanyut dalam perbincangan sampai hampir tengah malam.

Berawal membahas sedikit keperluannya, lalu ngalor ngidul bernostalgia kisah waktu kuliah, aktifitas sekarang hingga bercurhat ria. Ya, curhat. Kaget ya kl laki laki suka curhat juga? Hehe

"Zun, ane suka iri liat ente dan teman teman hidup harmonis dengan keluarga. Sedangkan ane antum tau sendiri seperti anak yang gak dianggap oleh kedua orang tua ane" kisahnya mengawali.

"Sejak kecil ane jauh dari kasih sayang orang tua. Ane banyak menghabiskan waktu saat kecil bersama engkong ane. Sedangkan kedua orang tua ane, baik bapak atau ibu gak peduli dengan ane. Bahkan ane sempat bertanya dalam hati sebenarnya ane ini anak kandung atau anak pungut si? Tak ada kasih sayang dan kehangatan dari mereka untuk ane.

Ketika wisuda, disaat ente dan teman-teman didampingi kedua orang tua masing-masing, ane jalan ke tempat wisuda naik motor sendirian. Sungguh iri teriris hati ane melhati teman-teman bersuka cita dan berpoto ria dengan kedua orang tuanya masing-masing. Sedangkan ane? Hahhh..." Selanya sambil menghela nafas

"Berharap mendapatkan ucapan selamat atas kelulusan, ternyata harapan tinggal harapan. Tak ada sepatah katapun dari mereka atas kelulusan anaknya. Bahkan piagam-piagam dan prestasi-prestasi yang pernah ane dapatkan pun tak dihargai sama sekali. Bukannya ucapan selamat yang didapat, ternyata orang tua malah membuang seluruh prestasi ane itu semua dan menyisakan perkataan yang menyakitkan hati. Menuh-menuhin ruangan saja katanya.

Semenjak awal kuliah, ente liat sendiri kan ane jarang aktif dalam setiap aktifitas kampus? Ane kerja mulai dari penjaga gudang dan naik terus sampai dapat amanah sebagai bagian katalog yang tugasnya hanya memantau saja. Ente tau? Disaat itu gak jarang ane jadi gelandangan. Terkadang tidur di emperan di sekitar kawasan senen bersama orang yang kurang beruntung lainnya. Bahkan, dimasa itu ane udah siap dan ridho kalau Allah matiin ane saat itu juga. "Dua kali ane merasa ingin segera Allah matikan, sudah tak kuat menahan penderitaan ini sendirian. Gaji ane dan tabungan ane saat itu sampai ane bobok dan sumbangin ke yayasan agar ane mati dalam keadaan terbaik. Ane gak kuat zun saat itu, sedih ane kalau ingat masa itu." ketegaran coba ia tunjukan dan pertahankan, tapi air mata tak terbendung menetes dari matanya yang teduh dan penuh kehangatan, mengalir deras membasahi pipinya yang putih bersih.

"Entah, nanti mungkin ketika ane wisuda S2, siapa yang akan datang menemani ane, hehhh..." Tutupnya sambil menghela nafas.

Ada pepatah bijak mengatakan, takkan terlahir pelaut ulung dari laut yang tenang dan takkan hadir mutiara indah dari kerang yang tak pernah merasakan sakit yang amat sangat dari butiran pasir yang masuk ke dalam tubuhnya.

Dengan beratnya masalah yang ia hadapi tak membuatnya berputus asa, tapi ia jadikan motivasi untuk meningkatkan kualitas diri. Ketakutan ia ubah menjadi sebuah kekuatan. Kebencian ia ubah menjadi sebuah kasih sayang.

Pengalaman pahit yang ia dapatkan membuatnya lebih bijak, sabar dan dewasa dalam menghadapi masalah. Kesedihan hati ia jadikan kepekaan dalam hatinya untuk lebih peduli kepada orang lain yang disekitarnya.

Ketika menerima gaji, makanan, kue dan lainnya dari hasil rapat dan silaturrahim serta gajinya, tak jarang ia berbagi kepada orang lain yang lebih membutuhkannya.

Allah angkat derajatnya dipandangan manusia, Allah berikan amanah besar yang orang-orang biasa seusianua tak mendapatkan kesempatan yang amat langka. Dari seorang sekuriti, kerja di gudang, model katalog, guru, kemudian Allah amanahkan ia sebagai kepala sekolah internasional yang pusatnya di singapura yang berada di bilangan jakarta barat. Tidak tanggung-tanggung, ia memegang amanah sebagai kepala sekolah dari tingkat SD-SMA. Hebatnya lagi, sahabat saya ini adalah kepala sekolah termuda sejakarta barat, dengan usia 24 Tahun.

Mungkin sebagian kita berpendapat dia memang hebat dan mumpuni serta sudah berpengalaman. Tidak, itu adalah pengalaman pertamanya sebagai.kepala sekolah. Jangankan mengurus sekolah, organisasi terakir yang ia ikut saja hanya rohis waktu di SMA.

Sebagian lagi mungkin berpendapat ada orang dalam yang membantunya. Tidak, sekolah itu sangat profesional dan selektif untuk masalah rekrutmen SDM, apalagi untuk tingkat kepala sskolah. Saingannya bukan main-main, ia yang hanya lulusan S1 dan sedang menempuh S2, ia harus berhadapan dengan doktor dari unpad dan UI.

Tapi, Allah memang luar biasa atas rahasia takdirNya. Malah ia yang diamanahkan sebagai di posisi itu. Katanya ia sangat memenuhi harapan dari panitia seleksi meski kualifikasinya masih jauh dibandingkan yang lainnya. Masya Allah...

Tak dipungkiri memang banyak hambatan dan kesulitan ketika menjalaninya. Mulai dari sistem yang harus terus diperbaiki, hingga partner guru yang meremehkannya dan membencinya. Masih anak bau kencur katanya.

Tapi berkat kesabaran dan pengalaman-pengalaman pahit dan masalah yang berat yang pernah dialaminya, membuatnya lebih siap dan dewasa menyikapinya. Syukur Alhamdulillahnya banyak sekali pertolongan Allah yang datang dari arah yang tak diduga-duga.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kisah ini, sungguh amat besar rahmat Allah kepada orang-orang yang Allah anugrahkan masalah dan musibah tapi ia hadapi dengan sabar dan tawakal.kepada Allah ta'ala.

Untuk sahabat saya yang tertulis kisahnya disini, ada satu pesan saya untukmu, "Bro, antum selama ini sudah banyak mengorbankan kebahagiaan antum untuk orang lain. Sekarang saatnya antum membahagiaakan diri antum dan juga orang lain yang insya Allah akan tulus mencintai antum. Ditunggu undangannya di bulan juni ya "

Aamiin... wallahu a'lam

@dhezun | Markaz Inspirasi
19.36 Diposting oleh Unknown 0

MENJAGA SILATURRAHIM



Sungguh mulia rasulullah dengan kesempurnaan akhlaknya. Diantara akhlaknya yang mempesona adalah kuatnya beliau menjaga tali silaturrahim. Bahkan dalam banyak hadits kita banyak menemukan anjuran anjuran rasulullah untuk menjaga erat tali silaturrahim.

Diantaranya adalah anjuran rasulullah untuk berziarah kepada kerabat yang jauh atau dekat, menghormati dan peduli terhadap tetangga, anjuran untuk saling memberi hadiah, dan lainnya.
Bukan tanpa sebab rasulullah memberikan perhatian yang dalam terhadap silaturrahim, karena dengan silaturrahim Allah akan memasukan kita ke surga, seperti dalam hadits berikut,

"Bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka," maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh dia telah diberi taufik," atau "Sungguh telah diberi hidayah, apa tadi yang engkau katakan?" Lalu orang itupun mengulangi perkataannya. Setelah itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturahmi". Setelah orang itu pergi, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika dia melaksanakan apa yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga". (Shahih bukhari muslim)

Selain itu juga dengan silaturrahim Allah akan membuka secara lapang pintu pintu rizki kita, Allah akan panjangkan umur kita, dan memudahkan urusan urusan kita,

"Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi". [Muttafaqun 'alaihi].

Tapi, tak jarang kita yang mengaku cinta kepada rasulullah malah seringkali menyelisihi beliau dalam keseharian. Anjuran menjaga silaturrahim dg mudah kita tinggalkan, memutuskan silaturrahim menjadi suatu kelumrahan.

Contohnya, enggan menegur sapa dan mengucapkan salam kecuali orang lain melakukan terlebih dahulu kepadanya. tidak suka dengan seseorang, delete contact. Merasa risih di facebook lgsg unfriend. Merasa terganggu di group WA lgsg walk out. Kesal, tak tegur sapa berhari hari bahkan berminggu minggu. Marah, tak ingin tatap muka selamanya atau sampai orang yang bersalah mengaku salah dan meminta maaf kepadanya. Berebut warisan akhirnya putus silaturrahim. Bahkan tak jarang silaturrahim kepada orang tua yang melahirkan kita mudah sekali diabaikan, jarang menengok orang tua karena sibuk dengan pekerjaan, jarang bertanya kabar mereka karena sibuk mengurus anak dan istri/suami, jarang memberikan hadiah karena uang habis untuk kebutuhan keluarga, kita hidup bahagia tapi orang tua hidup dalam kesendirian dan minim pengurusan. Astaghfirullah...

Padahal tidak boleh bagi seorang muslim memutuskan tali silaturrahim, kecuali dalam dua hal, dalam bermaksiat kepada Allah dan kepada manusia. Allah memperingatkan kita yang memutuskan silaturrahim dengan ancaman yang keras, yaitu diputuskannya hubungannya dengan Allah dan ditutupnya pintu surga bagi pelakunya.

"Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: "Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya". (Muttafaqun 'alaihi).

"Tidaklah masuk surga orang yang suka memutus, ( memutus tali silaturahmi)". (Mutafaqun 'alaihi).

Astaghfirullah... Ya Allah, ampunilah kami apabila kami pernah khilaf dan memutuskan silaturrahim kepada saudara saudara kami, ampunilah kamj apabila ada sikap dan lisan kami yang menjadi sebab terputusnya silaturrahim, ampunilah kesalahan kami, dan ampunilah seluruh kesalahan dan kekhilafaan saudara saudara kami kepada kami, baik yang secara disengaja ataupun tidak. Matikanlah kami dalam keadaan beriman kepadaMu dan menjaga silaturrahim kepada saudara-saudara kami... aamiin...

@dhezun | Markaz Inspirasi
16.11 Diposting oleh Unknown 0

MANAJEMEN WAKTU - SKALA PRIORITAS



“Sungguh saya telah berjumpa dengan beberapa kaum, mereka lebih bersungguh-sungguh dalam menjaga waktu mereka daripada kesungguhan kalian untuk mendapatkan dinar dan dirham” (Al-Hasan Basri)

Waktu tak dapat diulang dan akan terus berputar tanpa henti hingga waktu itu sendiri berakhir dan mati. Jika kita tak dapat mengendalikan waktu kita, maka kita yang akan dikendalikan oleh waktu. Suka atau tidak, begitulah nyatanya.

Kita bisa membeli apapun dengan uang kita, tapi tidak untuk waktu. Jika ditunda, tertunda yang lainnya. Jika Terlewat, ikut terlewat yang lainnya. Jika habis, ikut habis semua yang ada di dalamnya.

Siapa saja diantara kita yang hari ini sama dengan hari sebelumnya, MERUGIlah kita. Jika hari malah lebih buruk dari kemarin, CELAKA lah kita. Tapi jika hari ini lebih baik dari kemarin, termasuk orang-orang BERUNTUNG lah kita.

Diantara kiat-kiat mengatur waktu, salah satunya adalah dengan pandai menempatkan skala prioritas. Sayangnya, kebanyakan kita kurang apik dalam mengatur skala prioritas. Bukan berdasarkan yang kita butuhkan, tapi hanya berdasarkan apa yang kita inginkan. Celakanya lagi yang benar-benar tidak penting malah kita dahulukan.

Islam sebagai agama yang besar dan lengkap sudah mengatur tentang bagaimana mengatur skala prioritas. Misalnya, dalam sebuah kaidah fiqh dikatakan,

فإن تزاحَمْ عَدَدُ المَصالِح يُقدّمُ الأعلَي مِن المَصالِح

Bila sejumlah kemaslahatan berbenturan maka diutamakan yang paling besar maslahatnya.

Misal, sering kan kita temukan pengajian yang bablas sampai isya', pasti pernah terlintas di dalam hati kita,

"Kok bukannya langsung shalat, malah meneruskan pengajian dan menunda shalat isya? Bukannya shalat di awal waktu itu sunnah?"

Betul, shalat di awal waktu itu sunnah. Tapi menuntut ilmu itu kan wajib, pengajian itu juga dalam rangka menuntut ilmu. Jadi ketika yang wajib (Pengajian) bertemu dengan yang sunnah (Shalat di awal waktu), maka yang wajib dahulu yang diselesaikan, yaitu pengajiannya.

Sebab itu ulama membagi hukum islam itu menjadi lima tingkatan. Mulai dari yang fardhu (wajib), mandub (sunnah), Jaiz (Mubah, Makruh dan Haram. Jika bertemu yang wajib dengan yang sunnah, maka dahulukan yang wajib. Jika bertemu yang sunnah dengan yang mubah, maka dahulukan yang sunnah. Apalagi jika bertemu yang sunnah dan yang haram, tentu yang sunnah harus diutamakan dan yang haram kudu ditinggalkan.

Sehingga dapat dibuat kesimpulan tingkatan skala prioritas seperti pada gambar :

Pertama, dahulukan yang benar-benar penting dan mendesak.

Kedua, pilih yang mendesak, walau tidak terlalu penting. Tidak terlalu penting disini bukan berarti tidak penting. tapi ada kepentingan yang tingkatnya berbeda. seperti contoh antara shalat di awal waktu dan pengajian di atas.

Ketiga, setelah yang mendesak sudah selesai semua, lalu kerjakan yang penting berikutnya.

Keempat, barulah kita isi waktu kita dengan hal yang tidak terlalu mendesak dan tidak terlalu penting untuk kita.

Contoh untuk yang benar-benar mendesak dan sangat penting. Memilih makan siang dahulu atau shalat dahulu. Makan memang penting, tapi tidak mendesak, karena bisa ditahan. Tapi shalat di awal waktu itu gak bisa ditunda, dan harus dikerjakan berjama'ah untuk yang laki-laki. Jadi dahulukan shalat berjama'ah di awal waktu, baru kemudian makan siang setelahnya.

Contoh lain yang mendesak tapi tidak terlalu penting. Misalnya, antara berbuka di awal waktu dengan shalat di awal waktu. keduanya penting, dan sama-sama sunnah. Tapi berbuka di awal waktu lebih didahulukan, baru kemudian shalat di awal waktu.

Jadi, dahulukan yang benar-benar mendesak dan sangat penting untuk kita. Awalnya mungkin sulit, karena tak biasa. Biasakanlah, maka akan menjadi mudah dan terbiasa.

Sederhana bukan? Semoga bermanfaat. Selamat mencoba.

Salam inspirator peradaban.
19.14 Diposting oleh Unknown 0

Batas sebuah Keta’atan (Belajar keta’atan dari seekor singa)


Di sebuah padang pasir di kawasan afrika, hidup satu kawanan singa yang dipimpin oleh seekor singa jantan dewasa yang gagah perkasa, yang mempimpin lima belas ekor singa betina, dan 10 ekor singa yang masih belia dengan usia dua sampai empat tahun setelah kelahirannya.

Setiap sore biasanya kawanan singa berburu mangsa secara berkelompok di daerah kekuasaanya yang mencapai 400 Km2. Meski singa jantan adalah pemimpinnya, sangat jarang singa jantan ikut serta dalam perburuan kelompoknya, hanya singa-singa betina yang biasanya turun untuk berburu mangsa.

Saat singa-singa betina berburu mangsa, singa jantan lebih banyak menghabiskan waktunya menjaga daerah kekuasaannya dari singa jantan dari kawanan sebelah yang mencoba merebut daerah kekuasaannya. Tugas lain yang juga menjadi tanggung jawabnya adalah mendidik singa-singa jantan muda yang lainnya agar kelak dapat menjadi singa jantan yang hebat dan bertanggung jawab.

Bukan karena singa jantan takut dan tak memiliki keahlian. Tapi fisiknya yang sangat besar, membuatnya mudah terlihat ketika mengintai mangsa. Selain itu, dari segi kelincahan dan kecepatan, singa jantan jauh lebih lambat dibandingkan singa betina, singa betina mampu berlari dengan kecepatan mencapai 81 Km/Jam, sedangkan singa jantan hanya mampu berlari dengan kecepatan mencapai 58 Km/Jam. Hal itu disebabkan oleh jantung yang dimiliki singa jantan hanya sebesar 0,41% dari berat tubuhnya, sedangkan singa betina memiliki berat jantung 0,51% dari berat tubuhnya, sehingga mempengaruhi kecepatan dan kelincahannya.

Di suatu sore hari yang cerah dan menyejukkan, singa-singa betina sedang bersiap untuk melakukan aktifitas rutinnya berburu mangsa. Setelah singa-singa betina pergi untuk berburu, singa jantan melakukan tugasnya mendidik singa-singa jantan yang masih muda.

Mereka berkumpul membentuk lingkaran di bawah pohon rindang. Terlihat antusias dan semangat singa-singa jantan muda yang tak sabar mendapatkan pelajaran yang akan dipelajarinya hari itu.
“wahai singa muda yang gagah perkasa, Hari ini kita akan belajar tentang arti sebuah keta’atan. Aku akan memberikan pelajaran sejauh mana batas keta’atan itu harus dilakukan” Jelas singa jantan dewasa memulai pelajarannya.

“Sebelum kita memulai pelajarannya, ada dua syarat yang harus kalian patuhi. Pertama, jangan bertanya tentang alasan kenapa Aku meminta kalian melakukan sesuatu. Kedua, Lakukan apa yang aku perintahkan secara totalitas, dengan seluruh daya dan upaya yang kalian miliki, dalam keadaan senang atau tidak, mudah atau sulit, kalian harus melakukannya.” Syarat dari singa jantan dewasa.
 Pelajaran dimulai.

Diajaknya berkeliling singa-singa jantan muda itu mengitari daerah kekuasaanya oleh singa jantan dewasa.

Terlihat tiga ekor anak singa yang berusia sekitar tiga bulan yang berasal kawanan lain memasuki daerah kekuasaan mereka. Sepertinya mereka terpisah dan tersesat dari kawanannya.

Melihat hal itu, singa jantan memberikan pelajaran pertama kepada singa-singa jantan muda.

“Tangkap dan bunuh anak-anak singa itu ! Jangan sisakan satupun yang hidup diantara mereka” Perintah singa jantan  dewasa.

Dengan sigap kesepuluh singa-singa jantan muda berlari mengejar anak-anak singa yang masuk ke daerah kekuasaan mereka. Ketiga anak singa yang malang itu lari ketakutan menghindari sekuat tenaga dari kejaran singa-singa jantan muda. Kalah fisik dan kalah cepat, akhirnya ketiga anak singa itu dapat ditangkap tanpa perlawanan berarti.

Singa-singa jantan muda bersiap menuntaskan tugas yang diperintahkan kepada mereka, dicengkram leher ketiga anak singa itu, taring yang tajam siap menyobek leher dan memutus urat leher ketiga anak singa yang malang itu.

“Tunggu ! Cukup ! Lepaskan ketiga anak singa itu ! kembalikan mereka kepada kawanan mereka !” Perintah singa jantan dewasa setengah berteriak.

Mendapatkan perintah seperti itu membuat singa-singa muda itu kebingungan.

“Wahai guru, bukannya engkau yang menyuruh kami menangkap dan membunuh mereka? Kenapa tiba-tiba Engkau berubah fikiran untuk melepaskan mereka bahkan mengembalikan mereka kepada kawanannya?” Tanya salah satu singa muda mencoba mendapatkan penjelasan.

“Wahai muridku, sudahkah kau lupa dengan kedua syarat yang aku sampaikan sebelum kita memulai pelajaran hari ini?” Jawab singa jantan dewasa.

Teringat akan syarat bahwa tidak boleh ada yang bertanya tentang apapun yang diperintahkan sang guru, sampai beliau sendiri yang menjelaskannya, akhirnya singa jantan muda ini meminta maaf dan siap menerima hukumannya.

“iya guru… maaf aku melanggar syarat itu… silahkan kau jatuhkan sanksi kepadaku asal kau mengijinkanku kembali ikut serta dalam pelajaranmu hari ini” Pinta salah satu singa jantan muda.

Gurunya pun mengizinkannya dengan memberikan hukuman kepada singa jantan muda untuk mengantarkan seorang diri ketiga anak singa itu ke kawanannya.

Sekembalinya salah satu singa jantan muda itu dari mengantar ketiga anak singa yang tersesat, guru melanjutkan pelajarannya.

“Perlu kalian ketahui wahai muridku, Setiap kawanan singa pada umumnya memiliki daerah kekuasaan sekitar 200-400 KM2. Sedangkan kawanan kita memiliki daerah kekuasaan mencapai 400 Km2. Seorang pejantan memiliki tanggung jawab yang besar terhadap keamanan dan keselamatan kawanan dan kekuasaannya dari singa-singa lain yang mencoba merebutnya. Untuk itu, seorang singa jantan harus memiliki fisik yang kuat.” Jelas singa jantan dewasa memulai pelajarannya yang kedua.

“Kita akan berlatih fisik sekarang, ikutilah aku mengelilingi daerah kekuasaan kita, jangan berhenti kecuali aku perintahkan untuk berhenti, jika aku berjalan kalian ikut berjalan, jika aku berlari maka kalian harus berlari di belakangku” Perintah singa jantan dewasa.

Singa-singa jantan muda mengikuti tanpa bantahan sedikitpun.

Mereka mulai dengan mengitari sambil berjalan seluruh daerah kekuasaan mereka, tak tampak ada kelelahan berarti setelah mereka mengitari satu putaran penuh  daerah kekuasan mereka.

Selanjutnya singa dewasa mempercepat jalannya dua kali lipat dari sebelumnya. Satu putaran penuh daerah kekuasaan pun ditempuh. Mulai berasa terengah-engah dengan mulut yang menganga pada mereka.

Diputaran ketiga singa jantan dewasa tiba-tiba berlari. Singa-singa jantan muda yang ada di belakangnya ikut berlari mengejarnya. Baru seperempat putaran, para singa jantan muda tampak kewalahan. Nafas sesak dirasa. Hingga pada akhirnya satu persatu singa-singa jantan muda itu berhenti mengikuti singan jantan dewasa yang masih terus berlari mengelilingi daerah kawasan.

Satu putaran penuh daerah kekuasaan dilewati singa jantan dewasa dengan berlari tanpa berhenti sedetikpun. Di putaran keempat tampak sudah kepayahan singa jantan dewasa itu. Tapi ia masih tetap berdiri tegak mencoba untuk bertahan. Di perempat putaran keempat tampak singa jantan dewasa menyeret kaki dan tubuhnya untuk terus melangkah kedepan. Hingga pada akhirnya singa jantan itu ambruk dan kemudian pingsan.

Beberapa menit kemudian singa jantan dewasa itu tersadar. Setelah tersadar dan dilihat keadaan singa jantan dewasa sudah pulih, singa-singa jantan muda yang daritadi menunggu kepulihannya pun bertanya kepadanya.

“ Wahai guruku… Sebenarnya apa yang hendak kamu ajari kepada kami sehingga engkau rela melakukan hal yang memberatkan dan menyiksamu?” Tanya murid-muridnya dengan nada keheranan

“Wahai murid-muridku yang aku banggakan. Sesungguhnya tanda baiknya seseorang adalah dilihat dari keta’atannya kepada orang yang memimpinnya. Ia menyambut panggilannya, meski ia suka ataupun tidak, mudah atau sulit, senang atau menderita. Tak kan pernah terlahir seorang pemimpin yang baik, jika tak ada keta’atan kepada pemimpinnya ketika ia menjadi seorang pasukan. Kalian adalah calon-calon pemimpin yang akan meneruskanku, oleh sebab itu aku meminta kalian untuk menta’ati apapun yang aku perintahkan kepada kalian. Sehingga kelak ketika kalian menjadi pemimpin, menjadi pemimpin yang baik, kalian akan bijaksana dalam memberikan perintah kepada siapa saja yang mengikuti kalian”

“ Ketika aku minta kalian menangkap dan membunuh ketiga anak singa itu, kemudian malah aku perintahkan untuk melepaskan dan mengembalikannya, sehingga membuat kalian bingung. Muridku, sesungguhnya tak ada sedikitpun keta’atan dalam rangka bermaksiat kepada Allah dan berlaku zalim kepada yang lain. Aku harapkan kelak kalian menjadi pemimpin yang memiliki hati, yang dapat membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang salah dan benar. Sehingga apa yang kalian perintahkan adalah perintah yang benar dan baik, yang tak menjerumuskan kepada kemaksiatan dan kezaliman”

“Yang ketiga, yaitu ketika aku meminta kalian mengikutiku sampai aku perintahkan untuk berhenti.. Maksudnya adalah agar kelak kalian memiliki totalitas dalam keta’atan dalam kebaikan. Tidak berhenti ketika kalian lelah, tidak berhenti ketika kalian terpuruk, tidak berhenti ketika kalian sakit, dan tidak berhenti ketika beratnya perintah yang diberikan. Buatlah kelelahan itu lelah mengikuti kalian, buatlah keterpurukan itu terpuruk menghadapi kalian, buatlah rasa sakit itu menjadi sebuah kebahagiaan, buatlah beratnya beban itu hancur lebur dengan kerasnya tekad perjuangan. Tak ada yang dapat menghentikan kalian. Kecuali kesadaran hilang dari fikiran, fisik sudah tak dapat digerakan, dan ruh pergi meninggalkan. Itulah batas sebuah keta’atan”

Tutup singa jantan dewasa mengakhiri pelajaran hari itu.
14.26 Diposting oleh Unknown 0

Personal Branding, Rahasia Sukses Menjemput Mimpi



Salah satu kunci keberhasilan meraih mimpi adalah dengan memperbanyak silaturrahim.

Diantara langkah efektif untuk memperbanyak silaturrahim adalah dengan membangun personal branding.

Yang pertama harus dilakukan adalah membuat orang mengenal kita, bagaimanapun caranya, cara yang paling efektif agar orang memberikan perhatiannya kepada kita adalah dengan membuat diri kita berbeda secara drastis dari yang lainnya.

Baru setelahnya kita membuat orang kenal kita sebagai apa, caranya dengan menghasilkan karya-karya luar biasa dan manfaat yang besar untuk orang-orang di sekitar kita. ketika orang sudah kenal kita sebagai apa, itu adalah keberhasilan kita dalam personal branding.

Ketika personal branding sudah berhasil, orang mengenal kita sebagai apa, kemudian orang akan memberikan kepercayaannya kepada kita. Silaturrahimnya bukan hanya kenal semata, tapi akan menjadi silaturrahim yang saling memahami, saling membantu, atau bahkan mendahulukan diri kita dibandingkan dirinya.

Hingga pada akhirnya, dengan diminta atau tidak, mereka akan membantu kita mewujudkan mimpi-mimpi kita.

Sebenarnya ini ilmu mahal, tapi terpaksa saya buka disini, inilah yang sedang saya lakukan. Jadi jangan kaget ya kalau status/tweet/sikap saya sangat menarik untuk dibaca dan diperhatikan.
Hahahaha

"Seorang Inspirator selalu punya alasan dibalik sikap dan perbuatannya, Meski Orang lain memandangnya sebagai orang Yang ANEH dan GILA"
‪#‎NasihatGURU‬

@dhezun
06.02 Diposting oleh Unknown 0

Allah sudah mengaturnya... Pasrahkan saja... ???


 Rezeki memang sudah ada yang mengaturnya, yaitu Allah... bahkan seluruh kehidupan kita, baik itu rezeki, jodoh, hidup dan mati kita, semenjak ruh ditiupkan pada usia 4 bulan di dalam kandungan sampai kita mati, juga sudah diatur oleh Allah di dalam lauful mahfudz.

Tapi semuanya itu tidak ujug-ujug turun, ada asbabnya. mau dapet rezeki banyak, ya harus ikhtiar lebih keras, bukan tidur di rumah tanpa ada upaya. kalau kita beranggapan bahwa rezeki sudah diatur, lantas kita tidak berbuat apa-apa, itu salah.

Itu seperti kaum jabariyyah yang mengatakan bahwa Allah yang berkehendak penuh terhadap takdir manusia, manusia tidak memiliki kehendak sama sekali. Seperti boneka yang digerakkan tuannya. zina nya manusia bukan karena manusia mau berzina, tapi karena Allah yang mau kita berzina, bermaksiatnya manusia bukan karena manusia mau bermaksiat, tapi karena Allah yang berkehendak manusia untuk bermaksiat. ini salah...

Ada lagi lawannya, yaitu paham qadariah, mereka mengatakan bahwa manusia memiliki kehendak penuh terhadap takdir dan kehidupan manusia, sedangkan Allah hanya bertugas menciptakan manusia saja. Allah itu ibarat tukang jam, dan manusia itu jam nya, manusia berjalan sendiri dalam takdirnya tanpa ada campur tangan Allah di dalamnya. Suksesnya manusia karena usahanya, bukan karena Allah. Miskin dan kayanya manusia juga karena manusia sendiri dengan usahanya, bukan karena Allah. begitu katanya... ini juga salah...

Dalam ahlu sunnah, Allah menciptakan takdir untuk Manusia, tapi manusia memiliki kehendak dan ikhtiar untuk memilih takdirnya. Sebab itu kita diperintahkan belajar supaya kita mengetahui apa yang tidak kita ketahui, kita diperintahkan mencari rizki yang halalan thayyiban supaya kita dapat memenuhi kebutuhan kita, serta tidak meninggalkan keluarga dan keturunan dalam kemiskinan.

Bedakan antara pasrah dan tawakkal. pasrah dekat dengan putus asa terhadap takdir, tidak melakukan apa-apa untuk mengubahnya. Tawakkal itu diawali dengan ikhtiar yang totalitas untuk menjemput takdir, lalu memberikan keputusannya kepada Allah terhadap hasilnya.

Ikhtiar juga bukan sembarang ikhtiar, lakukan ikhtiar yang baik. Ikhtiar yang tidak melanggar syari'atnya, yang dapat mendatangkan keridhaan dari Allah subhanallahu wa ta'ala. Bukan ikhtiar yang malah menjerumuskan kita dalam kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Allah subhanallahu wa ta'ala. misalnya, ingin kaya, kemudian datang ke dukun supaya dilancarkan rezekinya, lah ini juga salah...  kalau tuh dukun bisa lancarin rezeki orang, mendingan dia lancarin rezeki dia sendiri dan jadi orang terkaya di dunia kan?

Lakuin hal hal yang dapat mendatangkan rahmat dan keridhaan Allah terhadap ikhtiar kita, sehingga akan totalitas yang akan kita dapatkan. Misal ketika diberikan rezeki oleh Allah Rp 10.000 dari total kebutuhan Rp 1.000.000, jangan marah sama Allah, syukuri... kemudian instropeksi, mungkin ada yang salah ketika kita berikhtiar, mungkin kita tidak melibatkan Allah dalam ikhtiar-ikhtiar kita... setelah dapat hasil instropeksinya, lalu eksekusi dengan ikhtiar yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

wallahu a'lam...


@dhezun
04.39 Diposting oleh @dhezun 0

Kakek Tua Penghafal Quran


Semalam, saat kajian tafsir yang membahas tentang surat al-baqarah ayat 120-121 di AQL (17 Oktober 2014), ust. Bachtiar nasir bercerita tentang kisah nyata seorang kakek tua penghafal quran yang membuat jama'ah berdecak kagum.

Dalam suatu waktu, ada seorang kakek tua yang hendak dioperasi karena mengalami sakit, dokter menyarankan untuk segera dioperasi untuk menyembuhkan penyakitnya. Diluar dugaan, kakek tersebut terisak dalam tangis yang mendalam, dokter pun coba menguatkan dan meyakinkan sang kakek agar kakek tersebut tidak perlu khawatir karena penyakit yang dialaminya akan sembuh atas izin Allah dan tidak perlu khawatir terhadap pelaksanaan operasi karena dokter tersebut sudah berpengalaman untuk operasi penyakit tersebut dan besar sekali kemungkinan keberhasilannya.

Lalu kakek tersebut membalas perkataan dokter tersebut

"dok,bukan itu yang saya khawatirkan, insya Allah saya siap dan tak takut untuk menjalani proses operasinya... saya menangis karena saya sedih, akan banyak waktu yang terbuang saat operasi nanti pastinya, sedangkan saya memiliki kebiasaan untuk muraja'ah hafalan quran saya 12 juz tiap harinya, saya khawatir tidak dapat menyelesaikan hafalan saya di hari ini karena operasi ini, sebab itulah saya menangis..."

Lalu kakek tersebut melanjutkan dengan pertanyaan "dok, seberapa lama saya akan dioperasi?"

"Insya Allah hanya 4 jam kek" jawab dokter.

"Kalau begitu, berikan saya waktu di satu jam pertama untuk muraja'ah hafalan quran saya, lalu lanjutkanlah tindakan operasi setelahnya" jawab kakek memberikan solusinya.

Dokter pun menyetujuinya.

Pada satu jam pertama dokter memberikan waktu untuk kakek muraja'ah hafalannya di ruang operasi, setelah waktu berjalan satu jam, dokter dan timnya melakukan tindakan medis, dibiuslah kakek tersebut dan melaksanakan tindakan operasi.

Operasi tersebut berjalan lancar, tidak ada kendala yang berarti. Allah menolong keduanya.

Setelah kakek tersebut tersadar, dokter yang mengoperasinya tersebut berkata :

"Kek, baru kali ini saya mengalami kejadian yang luar biasa ketika mengoperasi pasien. Setelah satu jam kakek muraja'ah hafalan quran, kami pun membius kakek, saya yakin sudah tepat dosis bius kepada kakek, saya yakin dosis tersebut akan membuat kakek tak sadarkan diri. Tapi masya Allah, sepanjang operasi kakek tak berhenti sedikitpun membaca quran, seolah obat bius yang kami suntikan tak ada pengaruhnya dan rasa sakit saat operasi tak dirasakan"

Masya Allah... hikmah yang luar biasa yang dapat kita ambil dari kisah tersebut. Bagaimana dengan kita? Sudahkah ada kenikmatan dan kekhusyu'an ketika kita membaca quran?  Berapa banyak juz yang kita baca tiap harinya? Berapa banyak ayat quran yang kita hafal tiap harinya? Berapa banyak ayat quran yang kita muraja'ah tiap harinya dan berapa banyak ayat quran yang kita amalkan tiap harinya???

Sungguh, masih amat sedikit amalan amalan kita.

Orang bijak mengatakan :

"Janganlah takut dengan rezekimu pada hari ini, karena Allah sudah menjamin rezeki bagi orang yang hidup. Khawatir dan takutlah dengan kualitas dan kuantitas amalmu, apakah dapat mengantarkanmu ke surga? Karena tidak ada jaminan dari Allah bahwa kita akan masuk ke dalam Surga-Nya"

Wallahu a'lam bishshawab

@dhezun | Markaz Inspirasi
18.47 Diposting oleh @dhezun 0

DISC PERSONALITY



 

Apa itu 'DISC'

Sistem Kepribadian DISC adalah bahasa perilaku yang universal. Penelitian telah menunjukkan bahwa karakteristik perilaku dapat dikelompokkan dalam empat divisi besar yang disebut tipe kepribadian. Orang dengan profil tipe kepribadian yang serupa cenderung menunjukkan karakteristik perilaku tertentu yang umum untuk profil tersebut. Semua orang memiliki keempat tipe dalam dirinya, dengan intensitasnya bervariasi.

DISC adalah singkatan untuk:

Dominance - terkait dengan pengendalian, kekuasaan dan ketegasan

Influence - berkaitan dengan situasi sosial dan komunikasi

Steadiness - berkaitan dengan kesabaran, ketekunan, dan perhatian

C onscientiousness - berkaitan dengan struktur dan organisasi

Dominance

Orang yang mendapat skor tinggi dalam intensitas dari tipe "D" sangat aktif dalam menghadapi masalah dan tantangan, sementara yang rendah skor "D"-nya adalah orang-orang yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut sebelum melakukan keputusan. Orang2 "D" tinggi digambarkan sebagai penuntut, kuat, egosentris, berkemauan keras, ambisius, agresif, dan perintis. Skor D rendah menggambarkan orang2 yang konservatif, kooperatif, penuh perhitungan, tidak banyak menuntut, hati-hati, menyenangkan, sederhana dan damai.

Karakteristik Umum:
Langsung. Memutuskan. Memiliki kadar ego yang tinggi. Pemecah masalah. Pengambil risiko. Pemulai.

Kontribusi bagi Tim:
Menghargai waktu. Menantang status quo. Inovatif.

Kemungkinan Kelemahan:
Otoriter. Sikap argumentatif. Tidak menyukai rutinitas. Berusaha terlalu keras dalam sekaligus.

Ketakutan Terbesar:
Menjadi dimanfaatkan.

Termotivasi oleh:
Tantangan baru. Kekuasaan dan wewenang dalam mengambil risiko dan membuat keputusan. Kebebasan dari tugas-tugas rutin dan biasa. Lingkungan kerja/bermain yang berubah.

Lingkungan Ideal:
Fokus inovatif pada masa depan. Tugas dan kegiatan yang menantang, yang bukan rutinitas. Proyek-proyek yang menghasilkan hasil yang nyata. Kebebasan dari kontrol, pengawasan, dan rincian. Personal evaluasi berdasarkan hasil, bukan metode.

Yang Mungkin Diinginkan oleh Orang 'D' Tinggi:
Otoritas, kegiatan bervariasi, prestise, kebebasan, tugas2 yang mendorong pertumbuhan, pendekatan "garis bawah", dan kesempatan untuk maju.

Dengan Orang Dominan, LAKUKAN:
Berkata singkat, langsung, dan to the point. Bertanya "apa", dan bukan pertanyaan "bagaimana". Fokus pada usaha; ingat mereka inginkan hasil. Beri ia saran cara untuk mencapai hasil, memimpin, dan memecahkan masalah. Bahas manfaat dari ide dan cara pendekatan.

Dengan Orang Dominan, JANGAN:
Melantur. Mengulang-ulang. Fokus pada masalah. Terlalu ramah. Membuat generalisasi. Membuat pernyataan tanpa dukungan.

Sementara menganalisa informasi, orang D tinggi mungkin akan:
Mengabaikan potensi risiko. Tidak menimbang pro dan kontra. Tidak mempertimbangkan pendapat orang lain. Menawarkan sistem dan ide yang inovatif dan progresif.

Orang D memiliki karakteristik positif ini dalam tim:
Manajer otokratis - hebat meskipun dalam krisis. Mandiri. Inovatif dalam cara mendapatkan hasil. Tetap berfokus pada tujuan. Spesifik dan langsung. Mengatasi hambatan. Memberikan arahan dan kepemimpinan. Menekan kelompok untuk menuju keputusan. Bersedia untuk berbicara. Umumnya optimis. Menyambut tantangan tanpa rasa takut. Menerima resiko. Memandang gambar besar. Dapat menangani beberapa proyek. Berfungsi dengan baik dengan beban kerja berat.

Saran Perkembangan Pribadi untuk Tipe D:
Upayakan untuk menjadi pendengar aktif. Perhatikan ide-ide anggota tim lain sampai semua orang mencapai konsensus. Kurangi sikap mengontrol dan mendominasi. Kembangkan penghargaan yang lebih besar bagi pendapat, perasaan, dan keinginan orang lain. Masukkan lebih banyak energi ke dalam hubungan pribadi. Tunjukkan dukungan Anda untuk anggota tim lainnya. Luangkan waktu untuk menjelaskan "mengapa/kenapa" dalam laporan Anda. Jadilah lebih ramah dan mudah didekati.

Influence

Orang dengan skor "I" tinggi akan mempengaruhi orang lain melalui bicara dan aktivitasnya, dan cenderung emosional. Mereka digambarkan sebagai orang yang meyakinkan, memiliki daya tarik, politis, antusias, persuasif, hangat, demonstratif, mudah percaya, dan optimis. Mereka yang skor "I" rendah lebih banyak dipengaruhi oleh data dan fakta, dan bukan dengan perasaan. Mereka digambarkan sebagai orang yang reflektif, faktual, penuh perhitungan, skeptis, logis, curiga, butuh fakta, pesimis, dan kritis.

Karakteristik Umum:
Antusias. Mudah percaya; Optimis. Persuasif; banyak bicara. Impulsif; Emosional

Kontribusi bagi Tim:
Pemecah masalah yang kreatif. Pendorong yang hebat. Memotivasi orang lain untuk mencapai sesuatu. Memiliki rasa humor yang positif. Bernegosiasi dalam konflik; pembuat perdamaian.

Kemungkinan Kelemahan:
Lebih peduli dengan popularitas dari hasil yang nyata. Lengah terhadap detail. Terlalu banyak gerak tubuh dan ekspresi wajah. Cenderung untuk mendengarkan hanya jika itu lebih enak didengar.

Ketakutan Terbesar:
Penolakan.

Termotivasi oleh:
Sanjungan, pujian, popularitas, dan penerimaan. Sebuah lingkungan yang ramah. Kebebasan dari banyak peraturan dan peraturan. Orang2 yang ada menggantikan mereka dalam menangani rincian.

Lingkungan Ideal:
Prosedur praktis. Sedikit konflik dan argumen. Kebebasan dari kendali dan rincian. Sebuah forum untuk mengekspresikan ide. Kelompok kegiatan di lingkungan profesional dan sosial

Yang Mungkin Diinginkan oleh Orang 'I' Tinggi:
Harga diri dan penerimaan sosial, kebebasan dari rincian dan kontrol, orang-orang untuk bisa diajak bicara, kondisi kerja yang positif, pengakuan atas kemampuan, kesempatan untuk memotivasi dan mempengaruhi orang lain.

Dengan Orang Berpengaruh, LAKUKAN:
Membangun lingkungan ramah dan menguntungkan. Berikan mereka kesempatan untuk menceritakan ide-ide, orang, dan intuisi mereka. Bantu mereka untuk mengubah bicara jadi tindakan. Berbagi kesaksian dari orang lain yang berhubungan dengan ide-ide yang diusulkan. Luangkan waktu untuk kegiatan bersosialisasi. Kirim rincian secara tertulis. Kembangkan hubungan yang partisipatif. Ciptakan insentif atas tindaklanjut tugas.

Dengan Orang Berpengaruh, JANGAN:
Hilangkan waktu sosial. Dominasi pembicaraan. Abaikan ide atau prestasi mereka. Katakan kepada mereka apa yang harus dilakukan.

Sementara Menganalisa Informasi, Orang "I" Tinggi mungkin:
Kehilangan konsentrasi. Kehilangan fakta dan rincian penting. Menginterupsi. Bersikap kreatif dalam pemecahan masalah.

Orang "I" memiliki karakteristik positif ini dalam tim:
Komunikator naluriah. Manajer partisipatif yang mempengaruhi dan menginspirasi. Memotivasi tim. Spontan dan menyenangkan. Merespon dengan baik atas hal2 tak terduga. Menciptakan suasana kesejahteraan. Antusias. Memberikan arahan dan kepemimpinan. Mengekspresikan ide baik. Bekerja sama dengan baik dengan orang lain. Menjadi juru bicara yang baik. Akan menawarkan pendapat. Persuasif. Memiliki sikap positif. Mencapai tujuan melalui orang-orang. Memiliki rasa humor yang baik. Menerima orang lain. Kuat dalam acara diskusi.

Saran bagi Perkembangan Pribadi Orang 'I':
Timbanglah pro dan kontra sebelum membuat keputusan; kurangilah sikap impulsif. Lebih berorientasilah ke hasil. Latih pengendalian atas tindakan, kata-kata, dan emosi anda. Lebih berfokus pada rincian dan fakta. Ingatlah untuk memperlambat kecepatan anda bagi anggota tim lainnya. Bicara lebih sedikit; lebih banyak mendengarkan. Pertimbangkan dan evaluasilah ide-ide dari anggota tim lainnya. Berkonsentrasilah pada penindaklanjutan tugas.

Steadiness

Orang dengan skor tipe "S" tinggi menginginkan kecepatan yang tetap, keamanan, dan tidak suka perubahan mendadak. Orang2 yang tinggi "S"-nya adalah individu yang tenang, santai, sabar, posesif, mudah ditebak, sengaja, stabil, konsisten, dan cenderung bermimik wajah tanpa emosi. Orang2 yang rendah skor "S"-nya adalah mereka yang menyukai perubahan dan variasi. Orang dengan skor rendah "S" digambarkan sebagai mudah gelisah, demonstratif, kurang sabar, bersemangat, atau bahkan impulsif.

Karakteristik Umum:
Pendengar yang baik; Pekerja tim. Posesif. Mantap; Mudah diprediksi. Mudah memahami; Menyenangkan.

Kontribusi dalam Tim:
Dapat dipercaya dan diandalkan. Pekerja tim yang setia. Tunduk terhadap otoritas. Pendengar yang baik, sabar dan empati. Bagus dalam merekonsiliasi konflik.

Kemungkinan Kelemahan:
Menolak perubahan. Memakan waktu lama untuk menyesuaikan diri dengan perubahan. Menyimpan gerutu, sensitif terhadap kritik. Kesulitan menetapkan prioritas.

Ketakutan Terbesar:
Kehilangan keamanan.

Termotivasi oleh:
Pengakuan atas kesetiaan dan ketergantungan. Keselamatan dan keamanan. Tiadanya perubahan mendadak dalam prosedur atau gaya hidup. Aktivitas yang dapat dimulai dan diselesaikan.

Lingkungan Ideal:
Prosedur dan sistem praktis. Stabilitas dan dapat diperkirakan. Tugas-tugas yang dapat diselesaikan pada satu waktu. Sedikit konflik dan argumen. Atmosfir tim.

Yang Mungkin Diinginkan oleh Orang 'S' Tinggi:
Keamanan dalam situasi, penghargaan yang tulus, pola kerja berulang, waktu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan, keterbatasan tanggung jawab.

Dengan Orang Mantap, LAKUKAN:
Ciptakan lingkungan yang menguntungkan: pribadi dan menyenangkan. Ekspresikan minat yang tulus pada mereka sebagai pribadi. Sediakan mereka dengan klarifikasi atas tugas-tugas dan jawaban untuk pertanyaan "bagaimana". Bersabarlah dalam upaya mereka mencapai tujuan. Hadirkan ide atau penyimpangan dari praktek saat ini, dengan cara yang tidak mengancam, beri mereka waktu untuk menyesuaikan diri. Definisikan secara jelas tujuan, prosedur dan peran mereka dalam rencana keseluruhan. Yakinkan mereka atas dukungan tindak lanjut pribadi. Jelaskan bagaimana tindakan mereka akan meminimalkan risiko dan meningkatkan prosedur saat ini.

Dengan Orang Mantap, JANGAN:
Terlalu memaksa, terlalu agresif, atau menuntut. Jangan terlalu konfrontatif.

Dalam Menganalisis Informasi, Orang2 'S' Tinggi Mungkin:
Di luarnya setuju, tapi di dalamnya membangkang. Merenungkan secara mendalam keprihatinan dan keraguan mereka. Ragu-ragu dalam berbagi umpan balik selama presentasi. Memperlambat tindakan. Memberikan dukungan berharga bagi tujuan tim.

Orang2 'S' memiliki karakteristik positif ini dalam tim:
Pembuat relasi secara naluriah. Manajer partisipatif - mencapai tujuan melalui hubungan pribadi. Membuat orang lain merasa seperti sesama. Menampilkan ketulusan. Dapat melihat cara yang lebih mudah untuk melakukan sesuatu. Terfokus dan intuitif tentang orang-orang dan relasi. Penuh akal sehat. Mendukung tujuan tim. Dapat diandalkan. Pekerja tim yang baik. Berupaya untuk membangun hubungan. Memberikan stabilitas. Mempertimbangkan unsur-unsur dari proyek secara keseluruhan. Realistis dan praktis. Memiliki emosi datar. Memberikan keterampilan khusus. Menunjukkan kesabaran terhadap orang lain. Loyal.

Saran untuk Perkembangan Pribadi Orang 'S':
Lebih terbukalah terhadap perubahan. Jadilah lebih langsung dalam interaksi Anda. Fokuslah pada tujuan tim secara keseluruhan, daripada prosedur khusus. Tanganilah konfrontasi secara konstruktif. Lebih kembangkan fleksibilitas. Tingkatkan kecepatan dalam mencapai tujuan. Tampilkan lebih banyak inisiatif. Nyatakanlah pikiran, pendapat, dan perasaan.

Conscientiousness

Orang dengan skor "C" tinggi biasanya patuh pada peraturan dan struktur. Mereka suka melakukan pekerjaan yang berkualitas dan melakukannya dengan benar pada kali pertama. Orang2 "C" tinggi adalah orang2 yang berhati-hati, tepat, rapi, sistematis, diplomatis, akurat, dan bijaksana. Mereka dengan yang rendah skor "C"-nya menantang aturan dan menginginkan kemerdekaan, digambarkan sebagai pembangkang, keras kepala, semau sendiri, tidak sistematis, dan tidak peduli dengan rincian.

Karakteristik Umum:
Akurat; analitis. Teliti; hati-hati. Pencari fakta; tepat. Standar tinggi; sistematis.

Kontribusi bagi Tim:
Teliti dan memiliki emosi datar. Cermat menyeluruh dalam semua kegiatan. Mendefinisikan situasi, mengumpulkan, mengkritik dan menguji informasi.

Kemungkinan Kelemahan:
Perlu batas-batas yang jelas antara tindakan dan hubungan relasi. Terikat oleh prosedur dan metode. Berkutat dalam rincian. Memilih untuk tidak membicarakan perasaan. Cenderung mengalah daripada debat.

Ketakutan Terbesar:
Kritik.

Termotivasi oleh:
Standar kualitas yang tinggi. Interaksi sosial terbatas. Tugas yang terinci. Organisasi logis informasi.

Lingkungan Ideal:
Tugas dan proyek yang dapat ditindaklanjuti sampai selesai. Tugas-tugas khusus atau teknis. Prosedur kerja dan rutinitas yang praktis. Sedikit konflik dan argumen. Perintah dan jaminan bahwa mereka melakukan apa yang diharapkan dari mereka.

Yang Mungkin Diinginkan oleh Orang 'C' Tinggi:
Otonomi dan kemandirian, lingkungan kerja terkendali, jaminan, harapan dan tujuan yang tepat, deskripsi pekerjaan yang tepat, perubahan yang terencana.

Dengan Orang Berhati Nurani, LAKUKAN:
Persiapkan sebelumnya tugas dari Anda. Gambarkan pro dan kontra dari ide yang diusulkan. Dukung ide-ide dan pernyataan dengan data yang akurat. Yakinkan mereka bahwa tidak akan ada kejutan yang terjadi. Berikan deskripsi pekerjaan yang tepat, dengan penjelasan yang tepat tentang bagaimana tugas yang cocok dengan gambaran besar. Ulas rekomendasi dengan mereka secara sistematis dan komprehensif. Jadilah spesifik ketika setuju. Jika tidak menyetujui mereka, tidak setujulah atas fakta-fakta, bukan secara pribadi/personal. Bersabarlah, gigih, dan diplomatis saat memberikan penjelasan.

Dengan Orang Berhati Nurani, JANGAN:
Menolak untuk menjelaskan rincian. Menjawab pertanyaan secara samar-samar atau kasual.

Dalam menganalisis informasi, orang2 'C' tinggi mungkin:
Menjadi terlalu berhati-hati dan konservatif. Terlalu terjebak dalam rincian. Menghindari atau menunda keputusan, terutama jika mereka merasa berisiko. Menjadi pemecah masalah yang efektif.

Orang2 'C' memiliki karakteristik positif ini dalam tim:
Organiser secara naluriah. Manajer "lakukan sendiri" - membuat dan memelihara sistem. Mengupayakan lingkungan yang logis dan konsisten. Mengendalikan rincian. Cermat. Mengevaluasi kemajuan tim. Mengajukan pertanyaan penting. Tetap berfokus pada tugas-tugas. Menawarkan pendekatan konservatif. Menekankan kualitas. Berpikir logis. Akan berbagi risiko dan tanggung jawab. Bekerja secara sistematis. Akan berusaha untuk mencapai mufakat. Diplomatis. Menganalisis hambatan.

Saran Perkembangan Pribadi bagi Orang2 'C':
Lebih berkonsentrasilah dalam melakukan hal yang benar, bukan hanya dalam melakukan tindakan secara benar. Kurangi sikap kritis terhadap ide dan metode orang lain. Meresponlah lebih cepat untuk mencapai tujuan tim. Berusahalah untuk membangun hubungan dengan anggota tim lainnya. Berlatihlah lebih dalam membuat keputusan. Kurangi fokus pada fakta, dan lebih pada pribadi orang. Ambillah risiko bersama dengan anggota tim lainnya.
10.00 Diposting oleh @dhezun 0

Belajar dari 'Organisasi Kampung' oleh dhezun




dakwatuna.com - Hikmah dan pelajaran itu tak memandang bulu, begitu kata para orang-orang bijak di sana. Kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari mana saja, tak memandang agama, ras, usia, pekerjaan, miskin kaya, status sosial, jenis kelamin, suku dan budaya, juga tak memandang sudah berpengalaman atau pemula.

Dalam tulisan ini, saya mencoba mengajak kawan-kawan untuk memasuki perenungan bersama, merenung sekaligus mengambil pelajaran dari sebuah “Organisasi Kampung”, yang minim akan pengetahuan, pemahaman dan pengalaman tentang sebuah organisasi. Tapi, di balik kekurangan mereka tersembunyi pelajaran dan hikmah sarat makna yang seharusnya dimiliki oleh kita yang mengaku bergerak dalam dakwah.
Dalam rangka HUT RI ke-69, sekelompok pemuda dan remaja di lingkungan RT yang orang tua saya pimpin, berinisiatif untuk mengadakan kegiatan tahunan yang sempat vakum dua tahun belakangan karena bertepatan saat puasa Ramadhan sedang berjalan, yaitu perlombaan tujuh belas agustusan.

Rapat pertama disepakati berlangsung di rumah orang tua saya, dalam rapat itu disepakati bahwa rumah orang tua saya menjadi markas berkumpul mereka. Rapat pertama berlangsung unik menurut saya, rapat berjalan tak beraturan tanpa agenda yang jelas, tanpa ada yang memimpin rapat, ada yang mendominasi pembicaran, ada yang diam seribu bahasa, bahkan ada yang membuat forum di dalam forum.
Uniknya lagi, mereka bersepakat menyelenggarakan perlombaan tersebut tepat pada tanggal 17 Agustus 2014, sedangkan rapat pertamanya sendiri diadakan pada hari Jumat tanggal 8 Agustus 2014. Orang tua saya pun sempat mempertanyakan keseriusan dan kesiapan mereka untuk mengadakan kegiatan tersebut, mengingat waktu yang tersisa hanya seminggu. Tapi mereka mampu meyakinkan ketua RT dengan semangat dan kekompakkan mereka, meski mereka sendiri tidak benar-benar yakin dapat mengadakannya.

Singkat cerita, Mereka sukses mengadakan kegiatan perlombaan tersebut, bahkan dana surplus dua jutaan dari anggaran dana yang dibutuhkan sebesar lima jutaan.

Berikut dua pelajaran penuh hikmah dari ‘organisasi kampung’ yang dapat dijadikan perenungan oleh kita semua yang mengaku bergerak dalam aktivitas dakwah.

1. Ruhul Istijabah (Semangat pemenuhan panggilan dakwah dan qiyadah).

”Dengarkanlah dan taatilah (para pemimpinmu) meski engkau dalam keadaan sulit, mudah, semangat, terpaksa dan membuatmu banyak melakukan pengorbanan.” (HR Muslim)

Mereka tidak mengetahui sama sekali kalau ada hadits seperti ini, mereka juga belum pernah mendapatkan materi tentang organisasi secara khusus, apalagi materi tentang qiyadah wa jundiyah serta materi ruhul istijabah.

Tapi, ‘Organisasi kampung’ terebut mengamalkannya dengan baik, tanpa keluhan, tanpa mempertanyakan, tanpa mengkritik, dan dilakukan dengan penuh totalitas kesungguhan.

Sebagai contohnya, ketika ketua menginformasikan untuk rapat, mereka yang berjumlah 35 orang hampir hadir semua dalam tiap rapatnya, Bahkan saat rapat diselenggarakan secara mendadak sekalipun. Tak hadirnya pun ada konfirmasi dan bisa dibilang syar’i. Mereka penuhi panggilan rapat bukan sebagai beban dan tuntutan, tapi sebagai sebuah kesenangan dan kehormatan.

Bagaimana dengan kita yang mengaku bergerak dalam dakwah? Tak jarang kita temui ketika qiyadah menginstrukksikan untuk hadir rapat, setengah dari kita yang hadirpun tidak, rasa malas dan masa bodo’ bersarang di hati-hati kita. Ketika kita diundang dalam agenda rapat, jangankan hadir, untuk konfirmasi sulitnya bukan main, seolah-olah seruan qiyadah adalah angin lalu yang tak layak didengar kata-katanya dan mengganggu aktivitas kita. 1001 alasan dan cara digunakan untuk menghindari seruan dan mendapatkan pemakluman, 1001 kebohongan dengan kata-kata ambigu menjadi andalan.

Bukan hanya dalam organisasi, dalam halaqah pun seperti itu. Ketika disepakati jadwal liqa, banyak yang mangkir tanpa kabar, banyak yang mencari-cari alasan dan pembenaran agar dimaklumi ketidakhadirannya, bahkan tak jarang yang beralasan dengan alasan remeh-temeh yang tak syar’i, seperti malas, bermain bersama teman, kumpul bersama teman, dan hal-hal yang tak sepatutnya disejajarkan dengan keutamaan halaqah. Tugas yang diberikan dipandang sebagai sebuah beban, ta’limat murabbi tak dihargai, kata-kata murabbi dianggap basi. Jangankan bahas tentang militansi, untuk mengaji seminggu sekali saja tak ada kesadaran dalam diri.

“Jangan berharap menjadi seorang murabbi yang baik, jika tak mampu menjadi mutarabbi yang baik”. Ketua ‘organisasi kampung’ tersebut bukanlah orang yang terbaik seperti layaknya sebuah organisasi pada umumnya. Pemimpinnya tidak memiliki pengalaman organisasi, tidak memiliki jiwa kepemimpinan, hanya seorang lulusan SMA, berbicara di depan umum pun terbata-bata. Sedangkan bawahannya ada yang sudah lulus kuliah, memiliki pengalaman organisasi di kampusnya, memiliki jiwa kepemimpinan, dan juga lebih layak dipilih daripada pemimpinnya. Ia dipilih bukan berdasarkan kapasitasnya, tapi karena ia selalu jadi bulan-bulanan teman-temannya, ia lah yang akhirnya dijerumuskan untuk menjadi pemimpin mereka.

Tapi, ketika ketua memberikan instruksi, semua dengar dan taat, tak memandang siapa yang mengatakannya, mereka melihat apa yang diperintahkannya. Ketika hasil rapat memutuskan sesuatu, semua ikut dan menjalankan tugas yang telah disepakati, tanpa keluhan dan pembangkangan. Mereka menjalankannya dengan penuh ketaatan walau ada rasa suka atau tidak suka, susah atau senang, mudah atau sulitnya amanah, tak sedikit pun mereka menolaknya, mereka tidak menerimanya dengan keluh kesah di dalam hati, mereka menerimanya sebagai sebuah kehormatan dan tantangan, mereka menjalankannya dengan penuh totalitas perjuangan dan pengorbanan.

Bagaimana dengan kita? Seringkali ditemukan keputusan rapat banyak dikeluhkan bahkan ditentang, amanah banyak terlalaikan, kepercayaan banyak dikhianati, pemimpin tak dipercaya dan ditaati sepenuh hati. Seakan akan keputusan pemimpin dan keputusan rapat adalah keputusan setan yang penuh dengan kebatilan dan hanya pendapat kita yang penuh dengan kesucian dan kebenaran.

Dalam halaqah juga tak jarang kita temui mutarabbi yang keberatan ketika mendapatkan murabbi yang tidak sesuai dengan keinginannya, hingga pada akhirnya mereka datang hanya untuk memenuhi kewajiban, bolos menjadi sebuah kebiasaan, bahkan mundur tanpa berta (muntaber) menjadi sebuah aksi penolakan.

Yang perlu kita pahami bersama adalah bahwa murabbi bukanlah orang yang sempurna, penuh dengan cacat dan kekurangan, tapi kebaikan dan manfaat jauh lebih tinggi nilainya daripada kekurangannya. Ambilah yang bermanfaat darinya, dan buanglah yang buruk darinya. Seburuk-buruknya murabbi, Ia tak mungkin menjerumuskan binaannya secara sengaja dalam lembah kemaksiatan dan dosa. Kita juga harus memahami bahwa dalam tarbiyah rotasi murabbi adalah sebuah keniscayaan, suka atau tidak, kita harus dewasa dalam menyikapinya. Ketaatan dan sikap hormat kepada murabbi adalah sebuah keutamaan. Karena tanpa ketaatan kepada murabbi, hanya akan menjadikan kita sebagai penghambat dan perusak jamaah. Tanpa sikap hormat, hanya akan menghilangkan keberkahan ilmu yang disajikan dan menyuburkan sifat takabbur di dalam diri.

Boleh jadi tak berkembangnya dakwah penyebabnya ada pada diri kita sendiri, para penggeraknya. Salah satunya adalah lemahnya ruhul istijabah terhadap seruan dakwah, qiyadah dan murabbinya. Banyak mengeluh tapi sedikit peluh, banyak menuntut tapi lemah memberi, banyak mengkritik tapi lemah dalam amal, banyak menggerutu tapi lemah dalam amanah, banyak mempertanyakan keputusan tapi lemah dalam tanggung jawab. “Pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu menjadi pengikut yang baik, karena takkan pernah menjadi pemimpin yang baik selama ia tak pernah menjadi pengikut yang baik”.

2. Komitmen terhadap waktu
“Pemberian terbaik yang tak ternilai harganya adalah WAKTU, karena waktu tak pernah dapat dikembalikan dan dibeli dengan apapun”.

Dalam surat Al-ashr Allah secara khusus bersumpah atas nama waktu, yang menunjukkan bahwa amat sangat berharganya waktu agar tidak disia-siakan.

Mereka tidak pernah mempelajari tafsir ayat tersebut, mereka tidak pernah sekalipun mendapatkan materi tentang manajemen waktu, skala prioritas, dan materi komitmen terhadap waktu. Tapi luar biasanya mereka mengamalkannya tanpa keluhan dan keberatan hati sekalipun. Ketika rapat diputuskan pukul delapan malam, setengah delapan mereka sudah ada di tempat semua, bahkan ada yang selepas maghrib mereka sudah ada di tempat yang disepakati.

Menariknya adalah saat hari ‘H’, Acara rencananya dimulai tepat pukul delapan pagi. Hebatnya, mereka bersepakat bahwa seluruh panitia wajib berkumpul pukul setengah tujuh, untuk briefing dan persiapan peralatan lomba, yang telat tiap menitnya dikenakan sanksi sebesar sepuluh ribu rupiah. Luarrr biasaaa…!!! Komitmen yang saya sendiri tak habis pikir untuk menerapkannya. Tapi, semua sepakat, semua setuju, alasannya satu, untuk kebaikan bersama dan kesuksesan bersama.

Alhasil, hanya ada satu orang panitia yang telat, itupun telatnya hanya hitungan menit, yaitu delapan menit. Saat evaluasi, panitia yang telat tersebut secara jujur tanpa paksaan mengakui dirinya telat dan siap membayar sanksinya. Berat sebetulnya baginya, bahkan ia sampai meminta keringanan untuk menyicil sanksinya selama beberapa kali. Bukan malah minta dimaafkan, Tapi ia malah berkata ‘ini kan kesepakatan bersama, dan gue ada dalam kesepakatan ini, jadi gue harus komit terhadap kesepakatan bersama ini’, begitu kata panitia yang beragama Kristen yang membuat semua orang tersenyum penuh haru dan simpati kepadanya.

Bagaimana dengan kita? Yang mengaku berpedoman terhadap Al-Quran dan Sunnah Rasulullah? Yang mengaku menyerukan kebaikan dan kemaslahatan? Yang mengaku peduli dengan nasib dan keadaan umat? Yang katanya sudah mengazamkan dalam diri untuk dakwah dan mewakafkan dirinya di jalan dakwah? Sudahkah kita menghargai waktu sebagaimana mereka menghargainya?

Tak jarang saya temui, waktu rapat yang disepakati seringkali dilanggar tanpa ada rasa bersalah sedikitpun, bahkan menuntut pemakluman. Hal ini tidak terjadi sekali dua kali, tapi terus menerus dilakukan oleh kita yang mengaku memahami tentang pentingnya komitmen terhadap waktu. Ketelatan rapatnya bukan hitungan menit lagi, hitungan jam pun sudah menjadi kebiasaan.

Dalam penyelenggaraan kegiatan dakwah pun seperti itu, panitia yang seharusnya datang jauh jauh waktu sebelum waktu kegiatan dimulai, panitia baru hadir lima menit sebelum acara, dan mayoritas yang lainnya terlambat tanpa sedikitpun rasa bersalah terhadap lalainya amanah yang berada di pundaknya masing-masing.

Ketika jadi peserta pun begitu, telat sepertinya adalah kewajiban dalam mindset peserta, ‘ah palingan ujung-ujungnya telat mulainya’, begitu kata mereka. Tak sadarkah mereka bahwa telatnya acara karena menunggu para peserta yang memiliki pola pikir yang sama ? Bahwa telat adalah sebuah keniscayaan. Alhasil, panitia menyelenggarakan kegiatan dengan tergesa-gesa, pesertapun datang dengan bersantai ria, Innalillah…

Tak sadarkah bahwa banyak sekali kezaliman kita terhadap saudara-saudara kita ketika kita tidak memiliki komitmen terhadap waktu? Baik kezhaliman yang secara langsung ia rasakan maupun yang tidak langsung. Mereka yang datang terlebih dahulu tak jarang harus merelakan diri tidak sarapan agar bisa datang tepat pada waktunya, di sisi lain ada yang lagi enak-enakkan menyantap sarapan dengan santai meski acara hampir di mulai, kemudian datang telat tanpa sedikitpun rasa bersalah di raut wajah-wajah mereka.

Tak sadarkah ketika kita hadir telat maka waktu berakhirnya pun akan ikut telat, alhasil mereka yang sudah memiliki agenda lain setelahnya ikut telat dan berantakkan, mereka juga tak luput ikut menzhalimi kawan-kawan yang telah menunggu kehadirannya. Tak sadarkah ketika kita telat, semakin minim waktu sebuah ilmu disampaikan karena harus menyesuaikan susunan acara yang tidak dapat diganggu gugat? Melestarikan ketelatan berarti melestarikan kezhaliman.

Dalam halaqah juga tak jarang begitu, tak jarang murabbi harus menunggu berjam-jam menunggu kehadiran mutarabbinya, begitupun sebaliknya.

Pernah saya mendengar, suatu ketika sebuah halaqah ingin menertibkan halaqahnya, salah satunya tertib dalam kehadiran. Mereka menyepakati bahwa barangsiapa yang telat, tiap menitnya wajib membayar iqab sebesar Rp 100, baik itu murabbi ataupun mutarabbinya. Ternyata dalam pelaksanaannya jauh dari harapan, beberapa kali murabbi telat, sedangkan mutarabbinya datang tepat waktu. Mereka harus menunggu setengah jam hanya untuk menunggu kehadiran Murabbinya, bahkan tak jarang Murabbi tak memberikan kabar terkait kehadirannya, bukannya memberi kabar terkait keberadaan dan kehadirannya, malah mutarabbinya tak dapat menghubungi ponsel pribadi Murabbinya. Ternyata tidak sekali dua kali, hal ini dilakukan berulang –ulang tanpa alasan yang menguatkan dan membenarkannya. Mutarabbinya pun kesal karena merasa tak dihargai komitmennya di dalam halaqah, hingga pada akhirnya mereka enggan untuk hadir kembali dalam halaqah tersebut.

Mutarabbinya telat sepertinya biasa, meski juga tak dibenarkan apapun alasannya, kecuali keadaan-keadaan yang memang tak bisa dihindarinya. Tapi jika murabbi telat, ini sudah keterlaluan menurut saya, apalagi jika telatnya bukan karena alasan yang memberatkannya. Murabbi adalah teladan, bagaimana mungkin mutarabbi dapat menghargai waktu jika Murabbinya tak mampu menghargai waktu yang telah disepakati bersama. Jangan-jangan selama ini telat menjadi sebuah kebiasaan dalam halaqah karena peran para murabbi yang tak dapat memberikan keteladanan dalam komitmen terhadap waktu.

“Jangan berpikir tentang ringannya ketelatan yang kita lakukan, tapi berpikirlah banyaknya kezhaliman yang kita lakukan terhadap orang lain, meski hanya satu menit sekalipun”.

Mari bersama kita merenung dan berdialog dengan diri kita masing-masing, apakah kita termasuk dalam orang-orang yang lemah dalam ruhul istijabah terhadap panggilan dakwah, qiyadah dan murabbi? Termasuk jugakah kita ke dalam orang-orang yang tidak memiliki komitmen terhadap waktu? Hanya tiap hati kita dan Allah yang mampu menjawabnya dengan penuh kejujuran dan keterbukaan.

Selamat berinstrospeksi, semoga bermanfaat dan menginspirasi.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/08/23/56140/belajar-dari-organisasi-kampung-2/#ixzz3BGYceqkB

22.38 Diposting oleh @dhezun 0

Orang tua dan kesuksesan (edisi SMAN 75)



Dalam sebuah kesempatan berbagi saya biasanya sering menyinggung tentang kedua orang tua,hari itu pun saya menyinggungnya.

Saya ceritakan tentang peran kedua orang tua dlm kesuksesan anak anaknya,boleh jd nelangsanya kita salah satu penyebab utamanya adalah tdk ridhonya ortu thp kita, remehnya kita dalam meminta restu dan doanya, serta secara sadar/tdk sadar kita pernah melukai hati dan perasaannya sbg orang tua, sedikitnya doa doa kita utk mrk jg menjadi penyebabnya,dan faktor lainnya.

Tema hr itu adalah ttg palestina,sy kisahkan bagaimana bangga dan bahagianya seorang ibu palestina mendapatkan anaknya syahid,bkn kesedihan yg ditampakkan,tp kesyukuran dan senyuman yg membuat haru org2 di sekelilingnya.jg ttg bagaimana cintanya seorang anak kepada kedua org tua yg membesarkannya,curhatan sering dibagikan kpd orang tuanya,pergi jihad pun izin dan berpamitan dg orang tuanya,lalu bagaimana dg kita? Apakah dtg ketempat ini kita membawa izin dan pamit dg kedua orang tua kita? Apakah org tua kita ridho kita dtg ke tempat ini? Apakah kita meminta doa dan restunya utk kesini? Atau malah membuatnya jengkel dan sakit hati krn sikap kita?

Semua terdiam... ada yg tertunduk dan ada yg menatap sy menunggu kelanjutan kata2 yg akan keluar dr mulut saya.

Disini siapa yg orang tuanya sudah tidak lengkap? Tanya saya. Saya minta salah satu dr mrk maju utk berbagi kisah dan perasaannya. Namanya adi handoyo,baru saja lulus SMA dan diterima kuliah di untirta jurusan yg berbau dg kelautan.

Dia mengisahkan bahwa ibunya meninggalkannya saat ia msh kecil sekali,dg sebab penyakit komplikasi yg dideritanya. Ayahnya seorang wirausaha biasa,kakaknya yg perempuan baru saja lulus beberapa waktu yg lalu katanya. Terlihat usahanya utk menyembunyikan kesedihannya dg ketegaran ucapannya.

Lalu saya bertanya,apa yg adi rasakan perbedaannya ketika ibu msh ada dan setelahnya? Yg pasti sedih,katanya. Sedih dan haus akan kasih sayang seorang ibu,kehilangan sosok lembut yg penuh dg kasih sayang,tapi saya jg bersyukur,lanjutnya.

Saya bersyukur,krn dg keadaan seperti ini Allah menguatkan saya dan keluarga saya. Menjadikan saya dan kk sy hrs mandiri,hrs bertanggung jawab dan kuat menghadapi masalah masalah kami sendiri,jelasnya dg penuh kesyukuran.

Saya berdecak kagum dlm hati yg sedang simpati.

Pertanyaan sy yg terakhir adalah apa yg ingin adi persembahkan utk almarhumah ibu dan jg keluarga adi?

Saya mau jd anak yg shalih sehingga bs memberikan hadiah berupa doa utk almarhumah ibu dan ingin sukses sehingga bs membahagiakan keluarga. Jawabnya dg penuh keyakinan.

Semua hening,tak ada yg bicara beberapa detik setelah adi menutup kisahnya,termasuk saya. Kekaguman,Simpati dan empati menyelimuti hati kami semua.

Disini Sy ingin menyampaikan korelasi kisah adi dg ibunya dg perjuangan sodara2 kita di palestina. Lanjut saya.

Sesungguhnya pejuang sejati tak terlahir dr kondisi medan juang yg aman dan temtram,tp mrk terlahir dr medan juang yg berat,penuh aral rintang menghadang bahkan jiwa raga menjadi taruhan. Serta ada peran org2 hebat yg ada di belakang org hebat,salah satunya adalah kedua org tua kita.

Tutup saya dlm sesi orang tua dan melanjutkan dlm sesi materi sy selanjutnya.

@dhezun | Markaz Inspirasi
20.10 Diposting oleh @dhezun 0

Postingan yang Lain