Terbaru

Akhirnya si cantik berjilbab


 "Din, mau pake jilbab gak?" Tanyaku memulai

"Mau mau A', tapi kan dinda gak punya bajunya" Jawabnya penuh semangat

"Entar Aa' beliin kl mau, Emang beneran mau? Mau dipake kapan?"

"Nanti A', pas kelas 5"

"Masih lama dong?"

"Enggak dong A', nanti nih kan pas dinda puasa, hari pertama puasanya dinda pake jilbabnya, jadi Aa' beliinnya sebelum puasa"

"Ah aa' gak ngerti, dinda aja yg beli ama ummi, nanti aa' yg ksh duitnya, emang abis brp utk beli semuanya?"

"Entar A' dinda tanya ummi dulu dah" asik asik puasa pake jilbab, dengan semangat datang ke umminya dan nanya semuanya.

"500rb Aa' kata ummi, mana sini duitnya, besok kata ummi setrlah dinda pulang sekolah belinya"

"Niiih..."

Wajahnya bertambah ceria kegirangan.

Alhamdulillah si cantik yang suka maen bola (ya begimane gak tomboy tuh anak, 3 abangnya laki-laki semua) tanpa dipaksa, tanpa diomelin, tapi memiliki kesadaran sendiri untuk berjilbab.

Entaah apa dan kenapa dia sampai tumbuh kesadaran untuk berjilbab.

Mungkin karena dia lihat teman2 abangnya yg jelek ini jilbabnya lebar-lebar bertamu untuk urusan tertentu kerumah, mereka bertamu dengan penuh kesopanan dan persahabatan hingga akhirnya tergerak hatinya untuk mencontohnya.

Seringkali bukan perkataan dan tuntutan yang dapat membuat seseorang berubah. Tapi malah keteladanan dan pemberian yang membuat orang itu berubah.

Mohon doanya untuk adik saya yg cantik ini, semoga bisa istiqomah menggunakan jilbabnya dan menjadi perempuan yang shalihah. Aamiin...

@dhezun
Condet, 15/6/2015
20.00 WIB
06.21 Diposting oleh dhezun putra 0

30 Tips Mahir Public Speaking Bagi Pemula


Oleh : @dhezun | Markaz Inspirasi

Komunikasi dalam public speaking bukanlah apa yang disampaikan, melainkan apa yang diterima.

Pernyataan tersebut bukannya tak berdasar. Sebab komunikasi public speaking bisa dibilang berhasil apabila informasi yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik oleh lawan bicara kita.

Ketika kita berbicara di depan public dengan jumlah audience yang lebih banyak, Kita perlu mempersiapkan diri. Sebab seiring dengan kesuksesan, Kita akan butuh berbicara di depan publik. Berikut tips tepat guna bagi Kita yang ingin memperdalam dan memperlancar kemampuan public speaking. Semoga bermanfaat!

1. Persiapan Mental Public Speaking
Orang akan menjadi sangat gugup dan berbicara terbata-bata hingga berkeringat dingin jika tidak memiliki keberanian dalam dirinya sendiri untuk berbicara di depan umum. Karenanya, dibutuhkan latihan dan persiapan mental sebelum melakukan public speaking. Yakinkan diri Kita pasti Kita bisa!

2. Mengatasi gugup/grogi dalam Public Speaking


Gugup dapat disebabkan oleh: tidak biasa dan tidak menguasai materi. Agar terbiasa, banyakin latihan! Agar menguasai materi, banyakin baca dan data. Dijamin, jika terbiasa dan menguasai materi, Kita tidak akan gugup.

Gugup juga sering muncul bagi yang sudah terbiasa dan menguasai materi. Misalnya, sebab ada di antara hadirin yang bikin kita GR atau seseorang yang kita hormati/kagumi. Maka, cara instant mengatasinya adalah TARIK NAPAS dalam-dalam, berulang kali, lalu yakinkan diri: saya yang paling siap tampil karena saya sudah bersiap-siap sejak kemarin!

3. Teknik pernapasan Public Speaking


Melakukan public speaking atau berbicara di depan umum jangan sampai "ngos-ngosan", kurang napas, atau tidak mampu mengatur dan mengendalikan pernapasan sehingga nafas Kita habis di tengah jalan. Maka, berlatihlah agar bisa bernapas panjang dan mampu mengelolanya.

Caranya, antara lain, tiup lilin yang menyala dalam jarak 1 meter, berulang-ulang, minimal 10x; tarik nafas sedalam mungkin (lewat hidung), lalu keluarkan lewat mulut pelan-pelan sambil berdesis "zzz.... zzzz... zzzzz...".

4. Teknik vokal untuk Public Speaking

Teknik vokal terpenting dalam public speaking adalah intonasi yang benar, stressing pada kata/kalimat tertentu yang dianggap penting, pelan saat permulaan dan akhir (volume), mainkan kecepatan berbicara (speed/tempo) biar gak monoton, perhatikan pula artikulasi (kejelasan kata/kalimat) dan pelafalan kata yang benar (pronounciation).

Gunakan suara asli (natural), jangan meniru suara orang lain atau dibuat-buat. "Merdukan" dengan "suara perut" (diafragma). Ini bisa dilatih.

5. Persiapan Materi Public Speaking

Ada pepatah mengatakan: siapa yang tidak melakukan persiapan, dia sedang mempersiapkan kegagalan. Who doesn't prepare he prepares fail. Maka, bersiaplah dengan mendalami materi mulai tema, topik public speaking. Selain itu Kita juga harus menyiapkan busana, kondisi fisik (biar fit), dan latihan! Practise makes perfect, doesn't it?

6. Teknik Membuka Public Speaking

Kita harus belajar cara membuka public speaking ataupun cara membuka pidato dengan kreatif, namun yang paling favorit adalah membuka dengan kisah/cerita, humor atau ungkapan lucu, mengutip pepatah/kata mutiara, dan langsung mengemukakan inti materi yang akan disampaikan.

7. Penyampaian/Penguasa Materi Public Speaking

Takut lupa materi? Takut nge-blank saat tampil di podium? Ini dia pilihan teknik dalam menguasaan materi: bawalah catatan kecil sebagai contekan (using notes), menggunakan alat bantu visual seperti LCD proyektor atau infocus (using visual aids as notes), membaca naskah lengkap (reading complete text), dan menghafalnya (memorize). Dua terakhir tidak disarankan untuk digunakan.

8. Teknik Menutup Public Speaking


Tutuplah presentasi atau pidato Kita dengan memukau. Jika hendak mengakhiri pidato, beri tKita (signal), bahwa Kita akan segera mengakhirinya. Katakan, misalnya, "demikian yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat, dan mohon maaf jika ada yang tidak berkenan, wasalam...!" Jangan muter-muter lagi, menjadikan pidato jadi tambah lama.

9. Jangan menghafal, tapi pahami materi

Jangan menghapal isi pembicaraan Kita tapi pahami dengan baik materi yang akan disampaikan. Karena dengan menghapal, maka gaya bicara kita akan terlihat kaku dan kedekatan personal tidak akan terjalin. Apalagi jika kita melupakan suatu kata dalam speech. Niscaya kita akan kelabakan, panik, dan bicara kita jadi kacau.

10. Buat Materi Public Speaking dalam Bentuk Pointer

Menulis poin-poin yang penting-penting saja, kemudian menjelaskannya secara alami, itulah kunci untuk menciptakan komunikasi yang baik. Dengan demikian, Kita tidak melewatkan satu pun ilmu yang ingin disampaikan.

11. Interaksi dengan audience

Penting untuk mendapatkan feedback dari audience supaya komunikasi kita jadi lebih hidup. Makanya, jangan lupa untuk berinteraksi. Dari feedback audience, kita bisa mengukur level humor yang bisa diterima audience.

12. Sisipkan Humor

Menurut Anthony Robbins, salah satu motivator dunia, humor adalah pelumas yang dapat membantu penyampaian informasi menjadi lebih lembut.

13. Kuasai Materi, dan Berimprovisasilah

Sebelum melakukan speech, penting untuk menguasai materi supaya kita bisa melakukan improvisasi. Terutama apabila durasi Kita masih panjang, sementara materi Kita sudah habis.

14. Time Management

Atur waktu yang diberikan pada Kita dengan baik. Dengan time management yang sudah diperkirakan sebelumnya, Kita bisa lebih mudah menyusun materi dan menepati deadline.

15. Gunakan Kekuatan Cerita
Jangan meremehkan kekuatan cerita. Pengalaman asli merupakan media yang paling ampuh untuk meyakinkan audience. Apalagi jika disampaikan dengan gaya yang meyakinkan. Mereka akan larut dengan cerita Kita.

16. Bangun Kredibilitas

Percayalah bahwa kredibilitas pembicara mampu mempengaruhi tingkat kepercayaan pendengar. Ada banyak cara untuk membangun kredibilitas, misalnya dengan gaya yang lugas. Namun cara paling mudah adalah menyiapkan fakta berupa data dan statistik untuk mendukung statement yang kita sampaikan.

17. Mix Pesan Yang Hendak Disampaikan

Mix materi, humor, cerita dan statistik di atas dalam sebuah informasi yang menarik untuk didengarkan. Di sini, Kita bisa membujuk sekaligus menghibur.

18. Berbicara Dengan Jelas

Seorang pembicara harus terlatih untuk berbicara dengan jelas. Supaya setiap informasi dapat diterima dengan baik. Maka bersyukurlah jika negara kita menggunakan Bahasa Indonesia, di mana penulisan adalah sama dengan pengucapan.

19. Gunakan Intonasi yang Berbeda

Apabila kita hanya menggunakan 1 intonasi saja selama speech, maka speech kita akan terdengar datar dan boring. Beri ledakan-ledakan bila perlu.

20. Kontak mata
Kontak mata sangat penting dalam membangun suatu komunikasi. Mereka akan merasa spesial. Perhatian mereka tidak sekedar bertepuk sebelah tangan.

21. Gunakan bahasa tubuh

Seringkali seorang speaker tangannya mati ketika di depan publik. Padahal bahasa tubuh mampu memberi penegasan-penegasan pada informasi yang ingin ditekankan. Maka seringlah mengangkat tangan Kita tinggi-tinggi di depan cermin untuk menemukan pose yang khas Kita banget.

22. Jangan ragu untuk “pause” dan ambil nafas

Jeda sebentar di saat yang tepat. Seperti di peralihan antar pembahasan, antar kalimat, atau untuk menarik perhatian peserta. Selain dapat menjadi kesempatan untuk kita dalam mengatur nafas, jeda dapat juga memberikan kita berfikir dan menyiapkan apa yang kita bicarakan selanjutnya, selain itu juga dapat menarik perhatian audience dengan cara jeda sambil menatap ke arah audience.

23. Hindari dan obati Filler words

Daripada emm dan ehh, akan lebih baik bila Kita menutup mulut dan kemudian mengambil nafas. Setelah itu baru memikirkan apa yang ingin disampaikan selanjutnya. Atau melakukan tips-tips mengobati filler words

24. Be Interesting

Posisikan diri Kita sejajar. Jangan minder. Kita akan tampak lebih interesting untuk dilihat. Rendah hati wajib, tapi rendah diri, JANGAN.

25. Tunjukkan rasa percaya diri Kita

Seperti halnya singa, manusia punya cara untuk menyatakan rasa percaya dirinya. Tersenyum, pegang dagu dan membusungkan dada adalah beberapa sikap yang menunjukkan sikap percaya diri Kita.

26. Buang tekanan yang Kita rasakan

Rasa gugup mungkin akan menyelimuti perasaan Kita saat akan mulai berbicara. Hal tersebut normal. Pembicara yang berpengalaman pun terkadap masih dihinggapi rasa gugup. Cara paling mudah menghadapi rasa gugup tersebut adalah merubah mindset Kita. Berpikirlah bahwa Kita di sini membawa informasi yang berharga bagi audience Kita.

27. Persiapan

Siapkan segala hal yang mendukung speech Kita. Mulai dari poin-poin yang paling kecil sekalipun seperti sapu tangan di saku dan air mineral.

28. Jam terbang

Langkah paling akhir untuk menjadi pembicara yang baik adalah terus berlatih. berbicaralah sesering mungkin. Ambil setiap kesempatan yang ada. Sebab seiring intensitas trial & error, Kita baru bisa menemukan rumusan yang pas.

29. Buatlah Aturan Main

Membuat aturan main di awal performa akan sangat membantu kita dalam mengelola auidience agar terkondisikan dengan baik. Bila audience-nya terlihat sedikit, kurang semangat dan kurang aktif, maka perlu dibuat peraturan agar aktif dan semangat. Atau bisa juga peraturan berupa ketegasan.

Strategi peraturan tegas ini akan sangat bermanfaat jika kita berhadapan dengan audience yang sangat banyak dan hyper active.

Pernah saya saksikan hal ini dari seorang trainer professional yang memecahkan rekor MURI bicara tanpa henti selama 24 jam, yaitu Reza M Syarif. Beliau membuat aturan tegas dengan melarang ada yang bicara selama beliau bicara, kecuali diminta. Saat itu ia berhadapan dengan 300-an peserta di ruang terbuka. Hasilnya, seluruh peserta bahkan panitia terkondisikan sepanjang lebih dari dua setengah jam. Walaupun tetap ada saja yang melanggar, tapi dihukum dengan hukuman yang mendidik, hukuman bukan karena benci, bukan untuk mempermalukan tapi untuk menyadarkan dan mematangkan

30. Fokus pada peserta yang antusias

Fokuslah pada audience yang tampak antusias terhadap kita, bukan pada si “troublemaker”. Karena jika kita menghabiskan seluruh fikiran dan seluruh upaya kita pada “troublemaker”, yang ada malah akan membuat kita stress jika mental dan jam terbang kita sedikit. Akibatnya fatal, seperti lupa materi, emosi yang tak stabil, dan terganggunya performa kita. Boleh sekali dua kali memberikan perhatian kepada “troublemaker”, tapi Jangan sampai tenaga dan fikiran kita habis oleh trouble maker yang bisa dihitung dengan jari dan mengabaikan audience yang antusias yang jumlahnya dominan.

Tapi, jika mental sudah sekuat baja dan jam terbangnya banyak, lakukanlah sebaliknya. Fokuslah pada si trouble sampai si trouble maker terkondisikan, barulah kita menyapu perhatian kita kepada seluruh peserta. Karena dengan jam terbang yang banyak, tanpa kita berikan perhatian kepada peserta yang antusias, dengan sendirinya mereka akan memberikan perhatian kepada kita.


Sekali lagi, public speaking adalah ilmu praktik. Kita akan menjadi public speaker yang mahir jika jam terbang kita semakin banyak. Karena jam terbang itu tak pernah berdusta.

Semoga Bermanfaat. Salam Inspirasi

Wallahu a’lam

Markaz Inspirasi
21.14 Diposting oleh @dhezun 0

PARA KSATRIA





Oleh : @dhezun | Markaz Inspirasi

Dalam suatu kesempatan, berkumpul lima ksatria yang berasal dari negeri berbeda. Para ksatria itu ada yang berasal dari Negeri Gunung, Negeri Besi, Negeri Api, Negeri Air, dan Negeri Angin. Lima negeri yang mahsyur dikenal sebagai Negeri-Negeri yang gemar berperang. Terkadang mereka menjadi kawan, terkadang menjadi lawan.

Lelah dengan peperangan tanpa henti dan memakan banyak korban, akhirnya Ksatria dari negeri angin mencoba mempertemukan mereka dalam satu forum perdamaian. Dengan harapan terdapat titik temu dan kesepakatan antar negeri untuk menghentikan peperangan dan tercipta kedamaian antar Negeri-negeri mereka.

Tak terlalu sulit bagi ksatria angin untuk mengumpulkan keempat ksatria yang lainnya, karena keadaan sedang dalam keadaan tenang tanpa peperangan.

Karena setiap mereka memiliki kepentingan, latar belakang, dan karakter yang berbeda, tantangan berikutnya adalah bagaimana menyatukan pandangan seluruh ksatria agar sama dengan pandangan ksatria angin, yaitu untuk mengakhiri peperangan selama-lamanya dan menciptakan perdamaian antar negeri. Seperti menyatukan air dan minyak yang tidak akan pernah bersatu tanpa ada campur tangan zat lain untuk menyatukannya.

Pertemuan dipimpin langsung oleh Ksatria angin, ksatria yang paling tua, paling berilmu dan bijaksana tutur katanya diantara yang lainnya. Ksatria angin kemudian menyampaikan maksud dan tujuannya mengapa mengundang ksatria yang lainnya. Ksatria Angin berharap para ksatria dapat membantunya untuk mewujudkan perdamaian dan menghentikan peperangan yang terjadi antar Negeri-Negeri mereka untuk selamanya.

Sekilas, mereka tampak sejalan dengan ide yang diutarakan oleh Ksatria angin, Tanpa di duga tiba-tiba…

“TIDAK…!!! Saya tidak setuju…!!! Kecuali Syarat dariku dipenuhi oleh kalian semua” Gertak Ksatria Gunung yang memiliki badan paling besar dan paling gagah diantara yang lainnya.
“Wahai ksatria gunung, apa syarat yang kau inginkan?” Tanya Ksatria angin dengan tenang.

“Kalian tahu kan, Kami yang berasal dari negeri gunung memiliki keahlian mengendalikan gunung-gunung yang ada di seluruh dunia?” Tanya retoris ksatria gunung.

“Tanpa adanya kami niscaya gunung-gunung itu akan meluluh lantakkan seluruh daratan yang ada dunia ini, akan memuntahkan seluruh larva yang ada di dalam perutnya, akan hilang keseimbangan antara langit dan bumi karena hilangnya penyokong bumi dan langit. Oleh sebab itu, karena keutamaan itu, aku mewakili seluruh penduduk negeri gunung, agar diberikan hak memimpin kalian untuk mewujudkan ide perdamaian itu” Tuntut Ksatria Gunung.

“Tunggu…!!! Aku Tidak Setuju…!!!” Sahut Ksatria besi yang memiliki fisik sekeras baja menyela Ksatria Gunung.

“Hai kau Ksatria Gunung…!!! Sadarkah dirimu bahwa Gunung-gunung yang kau banggakan itu dapat dengan mudahnya kami hancurkan?” Pertanyaan retoris dari Ksatria Besi.

“Dengan kemampuan kami yang mampu mengendalikan besi sesuka hati kami, kami dapat mengeruk tanah dan bebatuan yang membentuk gunung-gunungmu itu. Akan kami keruk seluruh tanahnya, akan kami hancurkan seluruh bebatuannya hingga tak ada yang tersisa dari Gunung-gunung yang Kau banggakan itu. Sebab itu, akulah yang lebih berhak memimpin kalian semua” Terang Ksatria Besi menunjukkan kekuatannya.

“Hahahaha… Lucu sekali kalian berdua…” Tawa ledek Ksatria api yang terkenal kejam.
“ Hei Kau Ksatria besi…!!! Akan kulelehkan mulut dan jasadmu bersama dengan besi-besi karatan yang kau bangga-banggakan itu…!!! Akulah yang paling kuat diantara kalian, dengan kemampuan api yang kumiliki ini, aku dapat membakar kalian semua tanpa sisa. Hanya aku yang paling berhak untuk memimpin kalian yang lemah tak berdaya” Tak mau kalah Ksatria Api memamerkan kekuatannya.

Tak mau kalah dengan yang lainnya, Ksatria Air yang terkenal pendiam pun angkat bicara.
“Heei… Heeiii… Sampai kapan kalian bertiga akan terus bertengkar ?” Tanya Ksatria Air.
“Hei Ksatria Api, tidak hilang ya kesombonganmu dari dahulu, tidak heran jika kau menguasai api, karena kesombonganmu layak sekali disandingkan dengan kesombongan Iblis dan syaitan yang juga diciptakan dari api. Mudah sekali bagiku untuk memusnahkan dirimu dan api yang menjadi kekuatanmu itu, sekali sembur dapat kuhanyutkan dirimu dan kupadamkan apimu. Tak hanya Api, akupun dapat memotong besi dan bebatuan dengan air yang kusemprotkan dengan kecepatan dan tekanan yang tinggi. Jadi, tak ada lagi yang lebih berhak memimpin kalian semua kecuali aku” Jelas Ksatria Air meyakinkan yang lain.

Mendengar perdebatan yang pelik diantara keempat ksatria itu, Ksatria Angin hanya diam mendengarkan sampai perdebatan itu berakhir dan buntu tanpa ada kesepahaman.
Melihat sikap Ksatria Angin, Ksatria Air bertanya kepada kepada Ksatria Angin

“Hai Ksatria Angin, Bagaimana pendapatmu? Bukankah Aku yang paling layak memimpin kalian semua?”

Mendengar dimintai pendapatnya, akhirnya Ksatria Angin angkat bicara,

“ Wahai para Ksatria, jika aku mengikuti kalian yang saling menunjukkan kekuatan, aku juga dapat berkata kapada kalian semua, bahwa kekuatan yang aku miliki dapat mengalahkan kekuatan kalian semua. Lihatlah bagaimana angin menggerakkan air di lautan yang tenang hingga menjadi badai yang mematikan, lihatlah bagaimana angin dengan kecepatan super cepat hingga menjelma menjadi badai yang dapat meluluh lantakkan seluruh yang ada di daratan, lihatlah bagaimana angin yang juga dapat memotong besi dan bebatuan dengan angin yang dihembuskan dengan tekanan dan kecepatan yang super tinggi” Jelas Ksatria Angin menunjukkan kekuatannya.

“Bisa saja aku juga menuntut kepemimpinan dengan kekuatan yang aku miliki ini. Tapi… Bukan itu yang aku harapkan. Siapapun pemimpinnya, selama ia dapat mewujudkan mimpi kita bersama untuk menciptakan perdamaian dan menghentikan perang untuk selamanya, aku akan menghormatinya, akan mendukungnya dan akan mendengar serta ta’at secara totalitas kepadanya” Lanjut Ksatria Angin mengajak berfikir ksatria yang lainnya.

Tak ada yang berani angkat bicara membantah Ksatria Angin, karena apa yang disampaikannya benar apa adanya.

Akhirnya disepakati secara musyawarah, seluruh Ksatria yang lain menginginkan Ksatria Angin yang memimpin mereka. Karena kebijaksanaan, ilmu, Usia dan Kekuatannya dapat menjadi penengah yang adil dan pemimpin yang tepat untuk memimpin mereka.

Sebulan setelah pertemuan itu, akhirnya deklarasi damai dan komitmen untuk tidak akan ada peperangan selamanya dikumandangkan. Negeri-Negeri yang selama ini berperang, akhirnya bersatu saling bantu dan menguatkan. Hingga terciptalah keamanan, kedamaian, keharmonisan, ketentraman dan kesejahteraan di seluruh Penjuru Negeri.

“Jika kau tak tahan dengan adanya perbedaan dan perselisihan dalam persaudaraan. Maka kau harus tahan dengan kelamnya kesendirian dan hampanya kehidupan.” @dhezun
06.40 Diposting oleh @dhezun 0

KAIDAH FIQH NIAT




A.      Pengertian Niat
Secara Etimologi kata niat dengan tasydid pada huruf ya’ adalah bentuk mashdar dari kata kerjaنوى- ينوى [1] Yang mempunyai arti maksud (al-qashd)[2] Syihab al-Din al-Qalyubi dan ‘umayrah berpendapat bahwa niat secara bahasa adalah al-‘azm atau al-Qashd[3] Dan inilah yang masyhur dikalangan ahli bahasa. Ada juga yang membaca niat dengan ringan, tanpa tasydid, menjadi (niyah).
Sedangkan secara terminologi, niat mempunyai pengertian:
قصدالشيءمقترنابفعله. [4]
Artinya: “termasuk (mengerjakan) sesuatu yang disertai pelaksanaannya”.
Menurut Abdurrohman Al-Jaziry, yang dimaksud dengan niat adalah ketetapan hati untuk melakukan ibadah dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah semata. Atau, dapat pula diartikan dengan al-irodah al-qowiyyah (keinginan yang kuat).[5]

B.      Dasar dan Sumber Pengambilan Kaidah al-Umuru Bimaqasidiha
1.       Firman Allah dalam QS. Al-Imran 145:
Artinya: “sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. dan Kami akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.
2.       Hadist Nabi Saw:
إنَّمَاالْأَعْمَالُبِالنِّيَّاتِ،وَإِنَّمَالِكُلِّامْرِئٍمَانَوَى،فَمَنْكَانَتْهِجْرَتُهُإلَىاللَّهِوَرَسُولِهِفَهِجْرَتُهُإلَىاللَّهِوَرَسُولِهِ،وَمَنْكَانَتْهِجْرَتُهُلِدُنْيَايُصِيبُهَاأَوْامْرَأَةٍيَنْكِحُهَافَهِجْرَتُهُإلَىمَاهَاجَرَإلَيه[6].
Artinya: “Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niat-niatnya dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan, maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena wanita yang hendak dia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya”. (HR. Bukhary-Muslim ra.).
لاعمل لمن لا نية له [7]
Artinya: “Tidak ada (pahala) bagi perbuatan yang tidak disertai niat”. (HR. Anas Ibn Malik ra.)
إنما بعث الناس على نياتهم [8]
Artinya: “Sesungguhnya manusia itu dibangkitkan menurut niatnya.” (HR.Ibn Majah dan Abu Hurairah ra.)

C.      Pendapat Ulama Tentang Niat
Hadits tentang niat ini bermartabat tinggi dalamsyari’at Islam. Kata Imam Abu Ubaidah: “tak ada hadits yang lebih kaya dan banyak faidahnya dari pada hadits niat.
Menurut ulama ahli tahqiq, bahwa hadits di atas isinya sangat padat. Sehingga seolah-olah sepertiga (ada yang mengatakan seperempat) dari seluruh masalah fiqh tercakup dalam hadist tersebut[9].Sedangkan menurut Ibn Muhdi hadits tersebut meliputi 30 bab[10]. akan tetapi menurut Imam syafi’ie, bahwa hadits tersebut meliputi 70 bab dari permasalahan ilmu fiqh[11].
Imam Asy-Syafi’ie, Ahmad, Abu Daud, Ad-Daruquthni dan lainnya sepakat menetapkan bahwa hadits niat itu menempati sepertiga dariseluruh ilmu pengetahuan Islam. Pendapat semacam ini diulas oleh imam al-Baihaqi sebagai berikut.
“segala aktifitas manusia itu adakalanya berpangkal pada hati sanubari, pada lisan dan  adakalanya pada anggota badan. Niat yang berpangkal di hati sanubari adalah aktivitas kejiwaan. Aktivitas itu lebih penting dan kuat ketimbang aktifitas yang berpangkal pada lisan dan anggota badan”.[12] Hal itu disebabkan karena niat dapat berfungsi sebagai ibadat yang berdiri sendiri sedang aktifitas yang lain tidak dapat berfungsi ibadat sekiranya tidak di dukung oleh niat. Niat sekalipun tidak dibarengi dengan amal perbuatan masih dianggap lebih baik daripada perbuatan yang tidak di barengi dengan niat. Demikianlah jiwa dari sabda rasul Saw.
Imam Ahmad sependapat dengan imam Syafi’I bahwa hadist niat itu adalah salah satu dari tiga hadits yang menjadi tempat pengembalian seluruh hukum Islam. Menurut beliau tiga buah hadits yang menjadi tempat pengembalian hukum-hukum islam itu ialah:
نية المؤمن خير من عمله [13]
Artinya: “Niat orang mukmin itu lebih baik daripada amal perbuatannyasaja (yang kosong dari niat).” (HR. ath-Thabrani)
من أحدث في أمرنا هذاماليس منه فهورد. [14]
Artinya: “barang siapa yang mengada-adakan dalam agamaku ini suatu yang bukan termasuk agama, maka tertolak.”(HR. Bukhari-Muslim)
الحلال بين و الحرام بين وبينهمامشتبهات لايعلمهن كثير من الناس. [15]
Artinya: “perkara yang halal itu jelas, yang haram jelas dan diantara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang……”(HR. Bukhari-Muslim).

D.      Tempat, waktu dan Fungsi Peng-Syariat-an Niat

1.       Tempat niat
Karena hakikat niat adalah bermaksud dan menyengaja (al-qashd), mayoritas ulama fiqh (jumhur) sepakat bahwa tempat niat adalah hati[16]. Meskipun demikian, karena gerakan hati itu sulit, maka para alim ulama menganjurkan agar disamping niat juga sebaiknya dikukuhkan dengan ucapan lisan, sekedar untuk menolong dan membantu gerakan Hati.
Namun, ketika seseorang berniat di dalam hatinya tanpa lafal (diucapkan) melalui lisan, maka diperbolehkan.­­--Kecuali ada sebagian ulama yang di nukil oleh al-Mawardi yang mewajibkan at-talaffuzh kemudian melemahkannya—.Sebab pada saat berniat, telah terjadi qashd di dalam hati manusia dan mengarahkan hati serta segala kecenderungannya pada apa yang hendak dilakukan. Hal ini di pandang lebih utamadari sekedar pelafalan dengan lisan. Karenanya, seorang yang melafalkan niat ketika hendak melaksanakan sholat, misalnya, tapi hati kecilnya menolak, maka keabsahan sholatnya menjadi gugur[17]
Namun disini pendapat jumhur yang lebih kuat. Karena mereka mendasarkan pada firman Allah QS. Al-Hajj: 46
Artinya: “Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”.
2.       Waktu niat
Secara umum, perbuatan yang berkaitan dengan syarat dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, perbuatan yang mengharuskan adanya niat. Kedua, perbuatan yang tidak mengharuskan adanya niat. Perbuatan kategori pertama dibedakan pula menjadi dua. Pertama, niat yang harus dilakukan di awal (sebelum berbuat); dan kedua, niat dilakukan ketika berbuat. Untuk lebih jelasnya akan penulis uraikan sebagai berikut:[18]
a.       Malikiyah berpendapat bahwa mendahulukan niat untuk bersuci adalah boleh. Sedangkan yang lain berpendapat bahwa niat beruci dan shalat harus berbarengan-- dengan perbuatan.
b.      Niat zakat boleh diniatkan sebelum benda zakat di serahkan kepada mustahiq zakat (Jumhur: hanafiyah, malikiyah, syafi'’yah, dan hanabilah). Namun sebagian ulama Syafi’iyah dan hanabilah bependapat bahwa niat zakat harus berbarengan dengan penyerahan barang zakat.
c.       Ulama syafi’iyah dan hanabilah mewajibkan berniat puasa pada malam hari (sebelum puasa ramadlan); ulama hanafiyah berpendapat bahwa niat puasa boleh dilakukan pada malam hari sebelum puasa ramadlan, atau bebarengan ketika mulai puasa (waktu fajar, menjelang subuh), bahkan boleh mengahirkannya hingga tengah hari (sebelum waktu dzuhur), baik puasa wajib maupun sunnah. Sedangkan malikiyah berpendapat bahwa niat puasa wajib di dahulukan (sebelum waktu subuh), baik puasa wajib maupun sunat.
d.      Jumhur ulama berpendapat bahwa niat qadha, nadzar, dan kifarat tidak boleh diakhirkan.
e.      Niat berkurban tidak boleh didahulukan sebelum menyembelih, dan tidak diwajibkan iqtiran niat berkurban ketika menyembelih.
f.        Niat untuk mengecualikan hal-hal tertentu dalam sumpah wajib dilakukan sebelum sumpah selesai.

3.       Fungsi Pensyariatan Niat
Segala syariat yang ada tidak akan terlepas dari tujuan dibalik pensyariatannya demikian pula dengan niat di dalamnya ada beberapa maksud dan tujuan yang melatar belakanginya diantaranya :
a.            Untuk membedakan amalan yang bernilai ibadah dengan yang hanya bersifat kebiasaan belaka.[19] seperti halnya makan, minum, tidur dan lain-lain. hal ini merupakan suatu keniscayaan bagi kita sebagai manusia, disadari atau tidak kita butuh keberadaanya karena hal yang seperti itu termasuk kategori kebutuhan primer. Akan tetapi jika dalam aktualisasinya kita iringi dengan niat untuk mempertegar tubuh sehingga lebih konsentrasi dalam berinteraksi dengan Tuhan maka disamping kita bisa memenuhi kebutuhan juga akan bernilai ibadah di sisi Allah.
Akan tetapi bagi amalan-amalan yang secara eksplisit sudah berbeda dengan amalan yang tidak bernilai ibadah maka tidak diperlukan adanya niat seperti halnya iman, dzikir dan membaca al-Qur’an dan sebagainya. Dan juga termasuk amalan yang tidak membutuhkan niat adalah meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh agama.
b.           Untuk membedakan satu ibadah dengan ibadah yang lainnya[20] Dengan niat ini pula kita bisa menciptakan beraneka ragam ibadah dengan tingkatan yang berbeda namun dengan tata cara yang sama seperti halnya wudhu’, mandi besar, shalat dan puasa.


E.       Syarat sah Niat[21]
1.       Islam
2.       Tamyiz
3.       Al-‘ilmu bi al-manwi (mengetahui terhadap yang diniati)
4.        ‘adam al-ityan bima yunafiha (tidak ada sesuatu yang mencegah niat)
5.        ‘adamu ta’liq qat’iha bisyaiin ( tidak bergantung pada sesuatu yang lain)

F.       Kaidah-kaidah yang dapat ditarik daripadanya[22]
a.      لاثواب إلا بالنية
Artinya: Tidak ada pahala selain dengan niat.
Selama perbuatan-perbuatan itu tidak dianggap baik atau buruk jika tanpa niat dari pelakunya, maka amal itu tidak akan memperoleh pahala selama tidak diniatkan yang baik. Ketetapan semacam ini telah disepakati oleh seluruh ulama.
Adapun mengenai sahnya amal, ada yang telah disepakati oleh para ulama bahwa niat itu sebagai syaratnya, scperti shalat dan tayammum. Dan ada juga yang masih diperselisihkan, seperti niat di dalam wudhu. Ulama Syafi'iyah dan Malikiyah menganggap niat itu sebagai fardhu (wajib), ulama Hanabilah menganggapnya sebagai syarat sahnya dan ulama Hanafiyah menetapkan sebagai sunnat muakkadah. Artinya jika dengan niat, wudhunya merupakan ibadah yang dipahalai, jika tidak, tidak dipahalai, sekalipun shalatnya sah juga.
Kesukaran yang berlebih-lebihan yang dimaksudkan untuk menambah pahala, justru tidak akan dipahalai. Tetapi yang dipahalai ialah kesukaran yang lazim dalam melakukan amal itu.
b.      مايشترط فيه التعيين فالخطأ فيه مبطل
Artinya: Dalam amal yang disyaratkan menyatakan niat, maka kekeliruan pernyataannya membatalkan amalnya.
Misalnya kekeliruan menyatakan niat:
a.       Dalam sembahyang zhuhur dengan sembahyang ashar,
b.      Dalam sembahyang idul fitri dengan idul adha,
c.       Dalam sembahyang rawatib zhuhur dengan rawatib ashar,
d.      Dalam sembahyang dua raka'at ihram dengan dua rakaat thawaf dan sebaliknya,
e.       Dalam berpuasa 'arafah dengan puasa 'asyura, dan sebagainya, menjadikan tidak sahnya amal perbuatan yang dilakukan. Disebabkan masing-masing dari perbuatan itu dituntut adanya pernyataan niat untuk membedakan ibadah yang satu dengan lainnya.


c.       ما يشترط التعرض له جملة ولايشترط تعيينه تفصيلا إذا عينه وأخطأ ضر
Artinya: Perbuatan yang secara keseluruhan dikaruskan niat tetapi secara terperinci tidak diharvskan menyatakan niatnya, maka bila dinyatakan niatnya dan ternyata keliru, berbahaya.
Misalnya :
a.       Seorang bersembahyang jama'ah dengan niat ma'mum kepada Muhammad. Ternyata orang yang menjadi imamnya bukan Muhammad, tetapi Amin. Shalat  Jama'ah orang tersebut tidak sah. Sebab keimamahannya telah digugurkan oleh Amin sedang niat kema'mumannya telah digugurkan oleh Muhammad, lantaran berma'mumnya dengan Amin tanpa diniatkan. Menyatakan siapa imamnya dalam sembahyang berjama'ah tidak disyaratkan. Tetapi yang disyaratkan ialah niatnya berjama'ah.
b.      Seseorang dalam bersembahyang jenazah menyatakan niatnya menyembahyangkan jenazah Bakar. Tetapi ternyata yang disembahyangkan adalah jenazah Ali, atau menyatakan niatnya menyembahyangkan jenazah seorang wanita, tetapi jenazahnya ternyata jenazah seorang laki-laki. Maka sembahyang tersebut tidak sah, sebab di dalam sembahyang jenazah tidak disyaratkan menyatakan niatnya untuk jenazah tertentu, tetapi cukuplah kiranya apabila niat bersembahyang jenazah begitu saja.
c.       Demikian juga menyatakan niat bersembahyang jenazah untuk sepuluh orang, padahal jenazahnya lebih dari sepuluh orang. Maka sembahyangnya harus diulang, sebab masih ada beberapa jenazah yang tidak disembahyangkan. Menyatakan jumlah jenazah yang disembahyangkan tidak diwajibkan.
d.      Orang bersembahyang zhuhur dengan menyatakan niat­nya 3 atau 5 raka'at. Maka shalatnya tidak sah, sebab menyata­kan bilangan raka'at shalat itu bukan merupakan syarat mutlak.

4.       ما لا يشترط التعرض له جملة ولا تفصيلا إذا عينه وأخطأ لم يضر
Artinya: “Perbuatan yang secara keseluruhan, maupun secara terperinci tidak disyaratkan mengemukakan niat, bila dinyalakannya dan ternyata keliru, tidak berbahaya”.
Misalnya :
a.       Seseorang bersembahyang 'ashar dengan menyatakan niatnya bersembahyang di masjid IAIN Sunan Kalijaga, padahal ia bersembahyang di masjid Syuhada Yogyakarta, Sembahyang orang tersebut tidak batal. Sebab niat sembahyangnya sudah dipenuhi dan benar sedang yang keliru adalah pernyataan tentang tempatnya. Kekeliruan tentang pernyataan tempat sembah­yang tidak ada hubungannya dengan niat shalat baik secara garis besarnya maupun secara terperinci.
b.      Seseorang bersembahyang dengan menyatakan pada niatnya sembahyang pada hari kamis, padahal hari yang ia sembahyang itu adalah hari jum'at, maka sembahyangnya tidak batal sama sekali. Sebab menyatakan hari tanggal ia sembah­yang tidak disyari'atkan.
c.       Seorang imam yang bersembahyang dengan menyatakan niatnya sebagai imam dari Ahmad, padahal yang ma'mum di belakangnya adalah Mahmud. Maka sembahyangnya tidak ba­tal. Sebab imam itu tidak diharuskan menyatakan niatnya tentang siapa orang yang berma'mum di belakangnya.
5.        مقاصد اللفظ على نية اللافظ
Artinya: Maksud lafazh itu tergantung pada niat orang yang mengatakannya.
Misalnya :
a.       Seorang suami memanggil istrinya yang bernama Thaliq (orang yang tertalak) atau seorang tuan pemilik budak memang­gil budaknya yang bernama Hurrah (orang yang bebas), maka jika memanggilnya tersebut diniatkan untuk mentalak istrinya atau memerdekakan budaknya, tercapailah maksudnya. Tetapi kalau hanya bermaksud untuk memanggil belaka tidak membawa akibat yang demikian.
b.      Jika seseorang di tengah-tengah menjalankan sembah­yang mengeluarkan ucapan-ucapan yang berupa ayat Al-Qur'an dan tidak ada maksud lain kecuali membaca Al-Qur'an, maka yang demikian itu jelas diperbolehkan. Tetapi jika dimaksudkan untuk memberitahukan atau memerintahkan kepada seseorang, seperti mengucapkan ayat:
 ٱدۡخُلُوهَا بِسَلَٰمٍ ءَامِنِينَ ٤٦
Artinya: Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman”.(Q.S. al-Hijr : 46)
Untuk memberikan izin masuk kepada orang yang sedang mengunjunginya.
dan kalimat:
يَٰيَحۡيَىٰ خُذِ ٱلۡكِتَٰبَ بِقُوَّةٖۖ وَءَاتَيۡنَٰهُ ٱلۡحُكۡمَ صَبِيّٗا ١٢
Artinya: Hai Yahya, ambillah kitab ini dengan sungguh-sungguh”(Q.S. Maryam: 12)
Dengan maksud memberikan perintah kepada Yahya untuk mengambil buku yang telah ditunjuk, maka sembahyangnya batal.
c.       Seorang  yang  berniat  melakukan  perbuatan  dengan diikuti ucapan musyiah (masya Allah), jika dimaksudkannya sebagai menggantungkan niatnya, perbuatan tersebut batal. Tetapi jika hanya sebagai tabarru’ (mengharapkan berkah) saja, tidak   batal, sebagaimana   halnya  jika   dimaksudkan secara mutlak.
d.      Seorang suami menjatuhkan talak kepada isrinya be-rulang-ulang sampai tiga kali dengan tidak memkai  huruf 'athaf (kata penghubung) di antara kalimat yang satu dengan lainnya, maka jika masing-masing kalimat itu dimaksudkan berdiri sendiri dan sebagai awal kalimat (isti'naf), jatuh talak tiga. Tetapi jika hanya sebagai penguat saja, hanya jatuh talak satu.


[1] Nashr Farid Muhammad Washil dan Abdul Aziz Muhammad Azzam. Qawa’id Fiqhiyyah. (Jakarta: Amzah, 2009), 28
[2] Abi ishaq Ibn Ibrahim Ibn Ali Ibn Yusuf al-Firuz Abadi al-Syirazi. Al-Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam al-Syafi’ie. (Beirut: Dar al-Fikr, 1994), 22
[3] Jaih Mubarok. Kaidah Fiqh: Sejarah dan Kaidah-Kaidah Asasi. (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2002), 115
[4] Ibrahim al-Bajuri, Hasyiyat al-Bajuri. (semarang:Usaha Keluarga, t.th), jil. I, hlm. 47
[5] Al-Jaziry, Abdurrahman , Al-Fikh ala Madzahib al-Arba’ah, Beirut: tanpa tahun, Ihya Al-turats Al-Aroby, hal.209
[6] Abi Abdallah muhammad Ibn Isma’il Ibrahim Ibn al-Mughiroh Ibn Berdazabah al-Bukhari al-Ja’fi. Shahih Bukhari. (Indonesia: Dar al-Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah, t.th) j. 1. Hal. 2
[7] Jalal al-Din Abdurrahman Ibn Abi Bakar al-Suyuti, al-Ashbah wa an-Nazha’ir. (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1987), 39
[8] Rahmat Syafi’ie. Ilmu Ushul Fiqih. (Bandung: Pustaka Setia, 2007), 276
[9] Sayyid Abu Bakar al-Ahdal al-Yamani asy-Syafi’ie. Faro’id al-Bahiyah fi al-Qowa’id al-Fiqhiyah, 10
[10] Jalal al-Din Abdurrahman Ibn Abi Bakar al-Suyuti.al-Ashbah wa an-Nazha’ir, 39
[11] Sayyid Abu Bakar al-Ahdal al-Yamani asy-Syafi’ie. Faro’id al-Bahiyah fi al-Qowa’id al-Fiqhiyah,11
[12] Sayyid Abu Bakar al-Ahdal al-Yamani asy-Syafi’ie. Faro’id al-Bahiyah fi al-Qowa’id al-Fiqhiyah,10
[13] Jalal al-Din Abdurrahman Ibn Abi Bakar al-Suyuti.al-Ashbah wa an-Nazha’ir,39
[14] Imam Muslim. Shahih Muslim. (bandung: Dahlan, t.th), jil. II, hlm. 63
[15] Jalal al-Din Abdurrahman Ibn Abi Bakar al-Suyuti.al-Ashbah wa an-Nazha’ir,41
[16] Ibid, hal. 209
[17] Nashr Farid Muhammad Washil dan Abdul Aziz Muhammad Azzam. Qawa’id Fiqhiyyah,18
[18] Muhammad Shidqi Ib Ahmad al-burnu. Al-Wajiz fi Idhah Qawa’id al-Fiqh al-Kulliyat. (Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1983), 63-64
[19] Sayyid Abu Bakar al-Ahdal al-Yamani asy-Syafi’ie. Faro’id al-Bahiyah fi al-Qowa’id al-Fiqhiyah.  (Ploso: Mahfudhat Linnasyir, t.th), 11
[20] Ibid.
[21] Zain bin Ibrahim bin Zain bin Syith. At-Taqrirath as-Sadidah  fi al-Masa’il al-Mufidah. (Surabaya: Dar  al-‘Ulum al-Islamiyah, 2006), 83
[22] Mukhtar Yahya dan Fatchurrahman. Dasar-Dasar Pembinaan Hukum Islam. (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1986), 492-496.
17.56 Diposting oleh dhezun putra 0

Postingan yang Lain